Posts

Demutualisasi Model NYSE dan SGX

Image
  Sehubungan dengan rencana demutualisasi BEI yang sedang berlangsung, model bursa saham  seperti apakah yang cocok untuk Indonesia? ada dua model yang dapat kita jadikan acuan yaitu NYSE dan SGX. Mari kita lihat apa implikasinya jika BEI mengikuti salah satu dari model ini. Model NYSE NYSE dimiliki sepenuhnya oleh Intercontinental Exchange, sebuah perusahaan publik yang terdaftar di NYSE dengan Kode: ICE Kepemilikan: ICE dimiliki oleh investor institusi besar (BlackRock, Vanguard, Fidelity, dll.) dan investor retail yang membeli saham ICE. Investor Retail tidak bisa membeli saham NYSE langsung, tapi bisa melalui ICE. Implikasi: NYSE menjadi bagian dari konglomerasi global ICE (mengelola banyak bursa dan clearing houses). Fokusnya pada efisiensi bisnis dan ekspansi global. Risiko: arah kebijakan NYSE dapat dipengaruhi kepentingan holding ICE, bukan semata kebutuhan pasar AS. Model SGX SGX adalah perusahaan publik independen, terdaftar di Bursa Singapura dengan kode S68. Kepemi...

Berkaca Pada Sesama Negara ASEAN

Image
Apa sih yang sangat menentukan pemberantasan korupsi Uang Publik di suatu negara? apakah budaya kerja birokrasi, struktur lembaga, penegakan hukum, atau yang lain.  CPI ASEAN 2024 (Data Terbaru yang Tersedia dari Transparency International) Skor 34 menempatkan Indonesia sejajar dengan Filipina, tetapi tertinggal jauh dari Singapura, Brunei, dan Malaysia. Bahkan Vietnam dan Thailand masih berada diatas Indonesia. Transparency International biasanya merilis laporan tahunan pada akhir Januari atau awal Februari. Jadi data 2025 kemungkinan akan keluar dalam beberapa minggu ke depan. Faktor Pembeda Utama: Budaya kerja Singapura dan Brunei menekankan meritokrasi dan disiplin birokrasi. Political will Vietnam menunjukkan komitmen kuat dengan kampanye anti-korupsi yang menindak pejabat tinggi. Secara Institusi, Indonesia menghadapi pelemahan KPK, sehingga efektivitas pemberantasan korupsi menurun. Perbedaan standing antar negara ASEAN lebih ditentukan oleh komitmen politik dan kekuatan in...

Ada Apa dengan IHSG

Image
  IHSG anjlok lebih dari 7% dalam dua hari terakhir hingga memicu trading halt, dipicu oleh keputusan MSCI yang membekukan sementara saham Indonesia akibat masalah transparansi free-float. Investor asing berbondong-bondong keluar, saham berkapitalisasi besar jatuh lebih dari 10%, dan ancaman penurunan status BEI dari Emerging Market ke Frontier Market kini menghantui. Kejatuhan IHSG Dalam dua hari terakhir (28-29Jan2026), IHSG drop lebih dari 7% hingga level 8.369,48. BEI menghentikan perdagangan sementara pada 28 Januari 2026 untuk meredam kepanikan. Emiten dengan kapitalisasi besar seperti perbankan dan telekomunikasi mengalami koreksi tajam, beberapa turun lebih dari 10%. Pemicunya MSCI menyoroti ketidakjelasan data free-float yang dilaporkan emiten Indonesia, sehingga saham yang seharusnya masuk indeks MSCI dikeluarkan dari pertimbangan. Dampak Langsung Banyak investor global melakukan aksi jual besar-besaran, menciptakan panic selling. Indonesia berisiko diturunkan dari katego...

Jose Rizal

Image
José Rizal adalah pahlawan nasional Filipina yang dikenang bukan karena senjata, melainkan karena pena dan gagasannya. Ia lahir pada 19 Juni 1861 di Calamba, Laguna, dan wafat pada 30 Desember 1896 di Manila setelah dieksekusi oleh pemerintah kolonial Spanyol. Karya-karyanya seperti Noli Me Tángere dan El Filibusterismo menjadi simbol perlawanan intelektual terhadap penindasan Kehidupan Awal Nama lengkap: José Protasio Rizal Mercado y Alonso Realonda. Latar belakang keluarga: Anak dari keluarga petani kaya di Calamba, Laguna. Pendidikan: Menempuh studi di Ateneo Municipal de Manila, kemudian melanjutkan ke Universitas Santo Tomas, dan akhirnya meraih gelar dokter di Universidad Central de Madrid. Keahlian: Selain sebagai dokter mata, Rizal juga seorang penulis, penyair, dan pemikir politik Pena Sebagai Senjata Rizal memilih jalur perlawanan tanpa kekerasan. Ia menulis novel Noli Me Tángere (1887) dan El Filibusterismo (1891) yang mengkritik keras ketidakadilan kolonial Spanyol, khususn...

Jack of all Trades, master of None

Image
  Ungkapan “Jack of all trades, master of none” sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang bisa melakukan banyak hal, tetapi tidak benar-benar ahli dalam satu bidang. Kalimat ini kerap bernada merendahkan, seolah-olah menjadi “serba bisa” berarti tidak pernah cukup baik. Namun, jika kita menelisik lebih dalam, pepatah ini menyimpan paradoks yang menarik: apakah menjadi generalis benar-benar kelemahan, atau justru sebuah kekuatan yang relevan di zaman penuh ketidakpastian ini? Asal-usul dan Makna Ungkapan ini berasal dari Inggris abad ke-16, awalnya tidak bermakna negatif. Versi lengkapnya sebenarnya berbunyi: “Jack of all trades, master of none, but oftentimes better than master of one.” Artinya: seseorang yang bisa banyak hal mungkin lebih berguna daripada mereka yang hanya ahli dalam satu bidang. Antara Spesialisasi dan Generalisasi Spesialisasi: Menjadi ahli tunggal memberi kedalaman, otoritas, dan reputasi. Seorang ahli bedah jantung, misalnya, menyelamatkan nyawa karena...

Pejabat Publik versus Kepentingan Publik

Image
  Donald Trump pernah menjadi simbol kontroversi global. Dunia menertawakannya, mencibir kebijakan yang dianggap menyalahi prinsip hak asasi manusia, kedaulatan negara, dan etika diplomasi. Namun ironisnya, di dalam negeri Amerika, mayoritas rakyat tidak turun ke jalan. Kritik keras hanya datang dari segelintir tokoh dan selebriti yang berani bersuara lantang. Maka lahirlah paradoks: Amerika melawan dunia, tetapi bukan melawan rakyatnya sendiri. Indonesia menghadirkan wajah yang berbeda. Di sini, jabatan publik sering diperlakukan bukan sebagai amanah, melainkan sebagai hak istimewa untuk berbuat sesuka hati. Aturan bisa ditabrak, bahkan diciptakan ulang demi kepentingan pribadi atau kelompok. Regulasi yang seharusnya menjadi pagar kepentingan rakyat, justru berubah menjadi pintu transaksi: siapa yang mampu membayar, dialah yang mendapat izin. Tidak mengherankan bila setiap proses politik—dari pencalonan, pemilihan, hingga pengangkatan pejabat—dipenuhi lobi, dukungan partai, bahkan...

Efisiensi Biaya Pemilihan Tanpa Mengorbankan Demokrasi

Image
  Biaya pemilu yang tinggi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi kedaulatan rakyat dengan menyerahkan pemilihan kepada DPR atau DPRD, karena hal itu hanya akan memperkuat politik transaksional yang tertutup dan melemahkan legitimasi demokrasi; justru tantangan kita adalah mencari cara agar pemilu tetap langsung, transparan, dan murah melalui inovasi teknologi seperti e-voting, digitalisasi rekap suara, serta pendanaan politik yang lebih akuntabel, sehingga demokrasi tetap menjadi milik rakyat, bukan sekadar permainan elite. Mengapa Biaya Pemilu di Indonesia Mahal? Logistik besar-besaran: Indonesia adalah negara kepulauan dengan banyak sekali pulau. Distribusi surat suara, kotak suara, dan petugas membutuhkan biaya sangat besar. Sistem manual: Pemilu masih berbasis kertas, sehingga mencetak ratusan juta surat suara, formulir, dan dokumen. Pengawasan berlapis: Untuk menjamin transparansi, ada saksi, pengawas, dan rekap berjenjang dari TPS hingga pusat. Honor petugas: Jutaan K...