Di Negeri bernama IRONI
NEGERI IRONI Di negeri ini, kita tumbuh dengan harapan. Bahwa pendidikan adalah jalan keluar. Bahwa kerja keras akan dibalas setimpal. Bahwa kejujuran masih punya tempat. Tapi realita bicara lain. Anak-anak pintar, lulusan terbaik, masuk korporasi besar. Mereka bekerja siang malam, mengejar angka, mengejar promosi. Tapi hidup mereka rapuh. Tak boleh salah. Tak boleh lambat. Tak boleh lelah. Karena satu kesalahan bisa menghapus segalanya. Di sisi lain, mereka yang tak punya akses serupa, masuk sekolah kedinasan. Biaya ditanggung negara. Tapi pintu masuknya tak selalu bersih. Ada harga yang tak tertulis. Dan orang tua pun rela, karena masa depan terasa lebih pasti. Setelah lulus, jabatan menanti. Gaji, tunjangan, fasilitas—semua tersedia. Lalu kekuasaan mulai dimainkan. Bukan untuk melayani, tapi untuk menguasai. Pendapatan sampingan tumbuh di balik meja. Lebih besar dari gaji resmi. Lebih licik dari sistem yang mengizinkannya. Pejabat jadi simbol kemewahan. Jabatan jadi lotere. Si...