Posts

Showing posts from September, 2025

Di Negeri bernama IRONI

  NEGERI IRONI Di negeri ini, kita tumbuh dengan harapan. Bahwa pendidikan adalah jalan keluar. Bahwa kerja keras akan dibalas setimpal. Bahwa kejujuran masih punya tempat. Tapi realita bicara lain. Anak-anak pintar, lulusan terbaik, masuk korporasi besar. Mereka bekerja siang malam, mengejar angka, mengejar promosi. Tapi hidup mereka rapuh. Tak boleh salah. Tak boleh lambat. Tak boleh lelah. Karena satu kesalahan bisa menghapus segalanya. Di sisi lain, mereka yang tak punya akses serupa, masuk sekolah kedinasan. Biaya ditanggung negara. Tapi pintu masuknya tak selalu bersih. Ada harga yang tak tertulis. Dan orang tua pun rela, karena masa depan terasa lebih pasti. Setelah lulus, jabatan menanti. Gaji, tunjangan, fasilitas—semua tersedia. Lalu kekuasaan mulai dimainkan. Bukan untuk melayani, tapi untuk menguasai. Pendapatan sampingan tumbuh di balik meja. Lebih besar dari gaji resmi. Lebih licik dari sistem yang mengizinkannya. Pejabat jadi simbol kemewahan. Jabatan jadi lotere. Si...

ILUSI POPULISME

Selamat pagi Indonesia selamat bergabung di program Ignite Hope Indonesia. Pagi ini kita akan membahas sebuah fenomena politik yang semakin terasa di sekitar kita: ilusi populisme. yaitu Ketika Rakyat Hanya Jadi Narasi. Sebuah wajah politik yang tampak bersahabat, merakyat, dan peduli—namun di baliknya, ada kepentingan yang jauh dari rakyat itu sendiri. Segmen 1: Apa Itu Populisme? Populisme sering dipahami sebagai gerakan politik yang mengklaim mewakili “rakyat biasa” melawan “elite korup”. Dalam praktiknya, populisme bisa menjadi alat yang ampuh untuk membangun kepercayaan dan dukungan. Tapi, apakah semua yang tampak populis benar-benar berpihak pada rakyat? Di Indonesia, kita mengenal gaya blusukan, pidato yang menyentuh hati, dan simbol-simbol kesederhanaan. Tapi apakah itu cukup untuk disebut pro-rakyat? Segmen 2: Ketika Populisme Menjadi Ilusi Ilusi populisme terjadi ketika citra “pemimpin merakyat” hanya digunakan sebagai strategi politik. Kebijakan yang diambil justru lebih men...

KETIKA POTENSI TAK MENJADI PRESTASI

Image
  Indonesia: Raksasa Demografis yang Belum Siap Menjadi Magnet Investasi “Indonesia memiliki pasar yang besar, tapi investor butuh kepastian, bukan sekadar angka.” — Analis Pasar Asia Tenggara, 2024 “Ketika regulasi kabur, modal akan mencari tempat lain yang lebih terang.” — Laporan Investasi Global, IMF Indonesia adalah negeri dengan populasi keempat terbesar di dunia. Lebih dari separuh penduduknya berasal dari generasi Milenial dan Gen Z—generasi yang tumbuh dalam era digital, terbuka terhadap inovasi, dan menjadi tulang punggung konsumsi masa depan. Secara teori, ini adalah pasar impian bagi produsen global. Namun dalam praktiknya, potensi ini belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan. Pasar besar tidak otomatis berarti pasar yang kuat. Daya beli masyarakat Indonesia masih tertahan oleh ketimpangan ekonomi dan stagnasi pendapatan. Banyak produk gagal menembus pasar bukan karena kurangnya minat, tetapi karena lemahnya kemampuan membeli. Di sisi lain, produsen dan investor menghadapi ta...

HIJAU PASPOR, SATU BANGSA

Image
Hijau Paspor, Satu Bangsa Di negeri zamrud khatulistiwa, terbit mentari di atas ego yang membara. Pejabat duduk di singgasana megah, rakyat berjalan di lorong gelisah. Individu sibuk dengan urusan sendiri, tak peduli tetangga yang tak bisa berdiri. Di jalan, di kantor, di ruang publik, semua berlomba jadi paling unik. Tapi dunia tak melihatmu sebagai pribadi, melainkan bagian dari satu identitas yang pasti. Bahasamu, kulitmu, langkahmu di bumi asing, adalah Indonesia yang mereka tafsirkan dengan ring. Paspor hijau di tanganmu, tak peduli jabatan atau hartamu. Urus visa Eropa saja tetap antre panjang, karena kita bukan warga Singapura yang mudah melayang. Wahai pejabat yang konon sedang kejatuhan amanah, ingatlah: jabatan bukan ladang mewah. Kerjalah sesuai peran dan tanggung jawab, bukan untuk gengsi, bukan untuk serakah. Apa arti mobil dinas dan rumah besar, jika rakyatmu makan pun masih sukar? Siapa tahu anakmu kelak bukan pejabat, tapi rakyat biasa yang hidupnya berat. Jangan warisk...

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Image
  SEBUAH CERPEN SPIRITUAL SEP 2025 #SoegengPriyono #SunyiDiRepublik #IgniteHope Dalam Sunyi Aku Menemui-Nya Di antara riuh doa yang terucap,  aku memilih diam yang dalam.  Bukan karena tak tahu jalan,  tapi karena jalan itu telah menjadi aku.  Aku bukan hamba yang mencari,  aku adalah pencarian itu sendiri.  Dalam denyut nadiku,  ada nama-Nya yang tak pernah padam.  Syariat kutemui di gerak,  tapi makna kutemui di batin.  Salat bukan sekadar rukuk dan sujud,  melainkan tenggelam dalam cahaya yang menyatu.  Aku bukan langit, bukan bumi,  aku adalah titik di mana keduanya bertemu.  Di sana, aku lenyap,  dan Tuhan menjadi aku yang sejati . PROLOG Aku ingin bercerita sebuah kisah kontemplatif yang menggambarkan bagaimana seorang tokoh spiritual radikal hadir dan bertindak di tengah hiruk-pikuk politik, media sosial, dan pencarian makna zaman modern.  Di tengah suasana politik Indonesia yang kompleks—dengan ...

Syeh Siti Jenar di Era Digital

  Syekh Siti Jenar di Era Digital Ia tidak hadir di panggung debat, tidak duduk di kursi partai, tidak bersuara di mimbar yang disorot kamera. Namun suaranya menggema di ruang sunyi, di antara pikiran-pikiran yang tak tunduk pada algoritma. Ia menulis di blog yang tak viral, tentang Tuhan yang tak bisa diklaim oleh satu golongan. Tentang iman yang tak bisa dijual dalam kampanye. Tentang salat yang bukan sekadar gerakan, melainkan perjumpaan batin dengan Yang Maha Ada. Di tengah politik yang sibuk membelah, ia menyatukan. Di tengah agama yang diperdagangkan, ia mengingatkan: Bahwa Tuhan tidak butuh pembela, Tuhan hanya butuh manusia yang jujur. Ia tidak punya followers jutaan, tapi satu kalimatnya bisa membangunkan jiwa yang tertidur. Ia tidak trending, tapi ia abadi dalam kesadaran mereka yang berani berpikir. Dan ketika dunia sibuk memilih pemimpin, ia memilih menjadi cermin. Bukan untuk dilihat, tapi untuk menyadarkan.

Dalam Sunyi Aku Menemuinya

Dalam Sunyi Aku Menemui-Nya Di antara riuh doa yang terucap, aku memilih diam yang dalam. Bukan karena tak tahu jalan, tapi karena jalan itu telah menjadi aku. Aku bukan hamba yang mencari, aku adalah pencarian itu sendiri. Dalam denyut nadiku, ada nama-Nya yang tak pernah padam. Syariat kutemui di gerak, tapi makna kutemui di batin. Salat bukan sekadar rukuk dan sujud, melainkan tenggelam dalam cahaya yang menyatu. Aku bukan langit, bukan bumi, aku adalah titik di mana keduanya bertemu. Di sana, aku lenyap, dan Tuhan menjadi aku yang sejati. -Ajaran SSJ-

Ajaran Syeh Siti Jenar

Selamat pagi Indonesia ! selamat bergabung dengan Program Ignite Hope dengan saya SP. Kali ini kita akan bahas ttg Ajaran Syeh Siti Jenar dan relevansinya dengan upaya-upaya mengikis Feodalisme. Banyak dari kita sesungguhnya belum paham apa yang dimaksud dengan ajaran tsb selain yang biasa diceritakan oleh ulama main stream selama ini yaitu bhw ajaran tsb sesat karena menganggap bahwa SSJ itu Tuhan.  Padahal tidak demikian halnya. Ajaran Syeh Siti Jenar adalah ajaran Monoteisme Sejati yang dapat menjadi inspirasi untuk membangun etika sosial, bahkan membangkitkan perlawanan terhadap struktur kekuasaan feodal. Pada abad ke 15 masyarakat belum banyak yang siap menerima ajaran SSJ karena tingkat kemampuan memahami belum merata. Kepentingan politik kaum feodal dan priyayi sebagai pemegang kekuasaan, dan alasan politik masih sangat dominan dalam social construct jaman itu, sehingga ajaran SSJ disingkirkan karena membahayakan kepentingan mereka. Konsep Manunggaling Kawula Gusti yang dipe...

Upaya2 Mengikis Feodalisme Indonesia

Sehubungan dengan feodalisme yang masih kental sampai sekarang, sering kita bertanya dalam hati apakah para pendahulu kita dulu tidak melakukan upaya-upaya untuk merubahnya, atau malah justru menikmatinya, melestarikannya. Mungkin secara subconcious sebagian besar masyarakat tetap melakukannya karena inertia, dan sudah diterima menjadi "ya begitulah memang masyarakat kita".    Bila kita buka catatan sejarah kembali, ternyata para pendahulu telah banyak juga melakukan upaya untuk keluar dari sistem masyarakat feodal namun belum berhasil.  Antara lain: Ulama sufi  Syekh Siti Jenar pada abad ke 15   sudah   menolak dominasi spiritual dan sosial para bangsawan dan ulama istana, melalui pengajaran Manunggaling Kawulo Gusti. Intinya adalah penyadaran bahwa rakyat biasa memiliki hubungan langsung dengan Tuhan, tanpa harus melalui perantara elite agama atau politik. Gerakan ini dianggap subversif dan akhirnya ditindas, tapi tetap menjadi simbol perlawanan terhadap ...

Bagaimana Mengikis Feodalisme di Indonesia

Flashback success-story Jepang, Perancis, dan Korea Selatan dalam upayanya melepaskan diri dari budaya feodal negaranya. Restorasi Meiji di Jepang dilaksanakan pada awal abad 19 dipenghujung jaman Shogunate Tokugawa. Peralihan ke Jepang modern. Resistensi bersenjata dari kaum Samurai yang sangat militeristik tidak main-main. Semi dokumentasi jaman itu dapat dilihat pada film The Last Samurai, dan Samurai X. Poin penting yang terjadi selama periode ini: Sistem kelas samurai dan feodalisme dihapus. Reformasi pendidikan militer secara massive. Percepatan industrialisasi dan adopsi teknologi Barat berbasis kompetensi. Public School diperkenalkan untuk mencetak warga negara yang terdidik dan mandiri. Pembentukan konstitusi baru pada tahun 1889. Revolusi Perancis terjadi pada abad ke 18 (seabad lebih awal dibanding Jepang)  menghapus Aristokrasi dan memperkenalkan prinsip “liberté, égalité, fraternité”. Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan. Negara memisahkan agama dari politik. Dominasi ...

Dari Feodalisme Menuju Egaliterisme

Secara teori, feodalisme telah ditinggalkan Indonesia sejak kemerdekaan, namun inertia budaya dan struktur sosial masih membayangi banyak aspek kehidupan kita sampai sekarang. Ternyata sangat tidak mudah melepaskan diri dari kebiasaan sehari-hari yang seolah sudah menjadi norma. Kabar baiknya ada beberapa negara yang telah berhasil melepaskan diri dari belenggu budayanya yang sudah berurat berakar selama beratus-ratus tahun. Antara lain yang telah dilakukan Jepang dengan Restorasi Meiji nya. Bagi Indonesia ada cahaya diujung terowongan, jika benar-benar berniat untuk melakukan perubahan. Langkah pertama tentu membangun Awareness dulu terhadap situasi dan kondisi saat ini sebagai baseline. Episode Ignite Hope kali ini dimaksudkan untuk itu tentu.  Beberapa kendala utama yang membuat sulit melepaskan diri belenggu budaya saat ini a.l. 1. Hierarki Sosial yang Kaku  Relasi atasan-bawahan masih sangat dominan baik di pemerintahan, pendidikan, maupun dunia kerja. Loyalitas lebih dih...

George Washington Dimata Bung Karno

  Kekaguman Bung Karno, Presiden pertama Indonesia, secara terbuka mengungkapkan kekagumannya yang mendalam terhadap George Washington. Ia tidak hanya melihat Washington sebagai pahlawan militer, tetapi juga sebagai teladan moral dan ideologis. Berdasarkan berbagai catatan sejarah, Sukarno: Mempelajari kepemimpinan dan tulisan-tulisan Washington sejak masa mudanya. Merasa seolah-olah ia sedang “berdialog” dengan Washington melalui buku-buku, dan menyerap nilai-nilai seperti keberanian, integritas, dan dedikasi terhadap kemerdekaan nasional. Mengagumi keputusan Washington untuk melepaskan kekuasaan, yang dianggapnya sebagai simbol patriotisme sejati—sebuah sikap yang ingin ia tiru dalam kepemimpinannya sendiri. Kesamaan Ideologis Nilai-nilai Washington—terutama komitmennya terhadap republikanisme, anti-kolonialisme, dan supremasi sipil atas militer—sangat selaras dengan semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sukarno dan para pemimpin lainnya: Mengadopsi strategi diplomasi dan pe...

Dr Tiffany Tsao

Image
Tiffany Tsao is a fascinating figure whose work bridges academia, literature, and translation with remarkable finesse. Here's a detailed look at her academic background and professional achievements:

 Academic Background Undergraduate Degree: BA in English Literature from Wellesley College, Massachusetts (2004) Doctorate: PhD in English Literature from the University of California, Berkeley (2009) While at Berkeley, she also formally studied the Indonesian language, which later became central to her translation work

Professional Achievements Academic Career Taught English literature at:   Georgia Institute of Technology   University of Sydney   University of Newcastle, Australia  Eventually left academia in 2015 to focus full-time on writing and translation Literary Work Novelist:  The Oddfits (2016) and its sequel The More Known World (2017)  Under Your Wings (2018), released internationally as The Majesties (2020), a psychological thriller about a Chine...

Legowo Mundur setelah Berjasa

Image
  Tulisan ini akan membahas mengapa Jenderal George Washington memilih untuk mundur setelah memenangkan Perang Kemerdekaan Amerika: Simbol Kebajikan Republik George Washington sangat percaya pada prinsip republik: bahwa kekuasaan harus berada di tangan rakyat dan wakil-wakil yang mereka pilih, bukan di tangan pemimpin militer atau raja. Dengan secara sukarela mengundurkan diri dari jabatannya pada 23 Desember 1783, ia mengirimkan pesan kuat bahwa militer harus tunduk pada pemerintahan sipil. Ia pernah berkata: “Setelah menyelesaikan tugas yang diberikan kepada saya, saya mundur dari panggung besar ini...” Mencegah Kediktatoran Militer Saat itu, banyak yang khawatir Washington akan merebut kekuasaan dan menjadi raja atau diktator—terutama karena popularitas dan keberhasilannya. Keputusannya untuk mundur adalah penolakan tegas terhadap kemungkinan itu. Ia meyakinkan rakyat Amerika dan dunia bahwa negara baru ini tidak akan jatuh ke tangan tirani. Keinginan Hidup Sebagai Warga Sipil W...

Penyeberangan Bersejarah diatas Sungai Beku

Image
Angin menderu seperti makhluk terluka di atas Sungai Delaware yang membeku. Persis tengah malam pergantian tanggal 25 ke 26 Desember,  gelap menyelimuti sungai dalam bayang-bayang, dan salju turun lebat, membutakan pandangan. Tahun itu 1776, dan Revolusi Amerika berada di ambang kehancuran. Jenderal George Washington berdiri di tepi sungai, jubahnya kaku oleh embun beku, matanya terpaku pada air gelap di hadapannya. Di belakangnya, 2.400 prajurit yang letih—petani, pandai besi, anak-anak muda yang bahkan belum tumbuh janggut—menunggu dalam diam. Sepatu mereka usang, perut mereka kosong, semangat mereka nyaris padam. Tapi dalam tatapan Washington, ada nyala api. “Kita menyeberang malam ini,” katanya pelan namun tegas. “Kita serang saat fajar.” Perahu-perahu Durham yang kokoh dengan tenang membawa beban manusia, kuda, dan meriam. Dayung menyibak arus dingin, menembus bongkahan es saat pasukan bergerak maju, satu kayuhan demi satu. Sungai melawan mereka, tapi mereka tak gentar. Sungai...

Surat untuk Mereka yang Tak Pernah Puas

  Kepada para pejabat yang diberi amanah oleh rakyat, Anda tidak dipilih untuk berkuasa—Anda ditugaskan untuk melayani. Jabatan bukanlah tameng untuk berfoya-foya, melainkan cermin yang memantulkan harapan jutaan orang. Namun, sebagian dari Anda telah keliru memaknai hak istimewa sebagai hak mutlak, dan tanggung jawab sebagai alat untuk menguasai. Korupsi bukan sekadar dosa pribadi—ia adalah luka publik. Setiap rupiah yang diselewengkan, setiap kontrak yang dimanipulasi, setiap jabatan yang dijadikan alat tukar demi keuntungan pribadi, perlahan meruntuhkan fondasi republik ini. Ia menumbuhkan rasa apatis, mengikis kepercayaan, dan meninggalkan rakyat dalam kekecewaan. Mungkin Anda merasa tindakan Anda tak terlihat, bahwa sistem melindungi Anda. Namun kenyataannya: sistem ini sedang berdarah. Dan darah itu bukan milik Anda—itu darah rakyat. Jalanan yang tak kunjung diperbaiki, anak-anak yang belajar tanpa buku, rumah sakit yang kekurangan obat—itulah akibat dari ego yang tak terkend...

Pesan Untuk Para Penjaga Negeri

Image
  Jabatan bukanlah mahkota, melainkan amanah yang berat di pundak. Setiap keputusan, setiap kebijakan, adalah benih yang ditanam di tanah rakyat. Jika kau menegakkan keadilan dengan tulus, maka sejarah akan menyebut namamu dengan hormat. Namun jika kau menyalahgunakan kuasa, karma tak akan lupa, meski waktu berlalu lama. Karma tidak mengenal pangkat, ia tidak tunduk pada seragam atau kursi empuk. Ia berjalan pelan, kadang diam, tapi pasti kembali—entah kepada dirimu, atau anak-anakmu yang tak tahu apa-apa. Jangan kira rakyat diam berarti lupa. Jangan kira langit tak melihat saat kau bermain api. Karena hukum alam lebih tajam dari hukum buatan, dan keadilan semesta tak bisa disuap. Maka berlakulah adil, karena kekuasaan itu sementara, tapi akibatnya bisa abadi. Berbuatlah baik, bukan demi citra, tapi demi warisan yang tak menyakiti generasi berikutnya.   Di Nusantara yang kaya akan budaya dan spiritualitas, konsep karma bukan sekadar mitos atau ajaran kuno. Ia adalah cermin mor...

I AM TRUSTED 💝

TRUSTWORTHINESS RESONATES ACROSS CONTINENTS AND 7SEAS Trustworthiness adalah satu bentuk Coin Universal karena laku dimana-mana. Dapat menyeberang lintas benua dan samudra luas secara cepat dan mudah. Itulah kenapa perlunya kita berlatih mengasah diri secara konsisten dan disiplin agar menjadi trustworthy. Dapat dipercaya. Dalam bahasa Arab disebut Al Amin.  Jack Ma pendiri Alibaba satu waktu mengatakan bahwa universal currency masa depan bukan lagi bank notes atau crypto namun Integrity. Tidak semua orang mendapat kesempatan memperoleh bintang penghargaan negara. Kabar baiknya bintang penghargaan bukanlah segalanya. Apalagi ketika mendapatkannya bukan karena jasa kepada negara yang luar biasa. Orang akan ketawa.  Ada sebuah true story yang ingin saya share pagi ini tentang trustworthiness sebuah bangsa yang benar-benar inspiratif: Suatu pagi disekitar akhir bulan April tahun 2025 ini, saya dan istri meninggalkan sebuah hotel di pusat kota Dublin, Irlandia  untuk menuju k...

MENJADIKAN DPR SEBAGAI RUMAH PUBLIK

Apa yang terjadi sejak 25Agustus hingga hari ini adalah akumulasi dari komunikasi publik yang hampir tidak jalan. Sehingga issue dan aspirasi masyarakat luas seolah menimbun tanpa ada katup pengamannya. Yang mengakibatkan pada sesaknya keinginan untuk menumpahkan aspirasi ke jalanan melalui demo. Kalo sudah begini ongkos yang ditanggung bangsa menjadi sangat mahal. Tangible maupun intangible. Anggota dewan banyak yg tidak simpatik dalam bersikap dan bertindak seolah above the law. Padahal ditengah segala kemewahan dan privilese yang mereka nikmati, sebagian besar masyarakat merasakan himpitan ekonomi yang semakin berat agar tetap hidup, dapat membayar gaji pegawai, dan membayar pajak. Sementara ASN dan anggota dewan bebas dari membayar pajak, berdasarkan UU yang mustinya tidak seperti itu. Kewajiban semua warga negara adalah membayar pajak.  Pada masyarakat feodal, rakyat membayar upeti pada bangsawan penguasa. Tapi bukankah itu sudah lama harusnya ditinggalkan bukan. Negri kita be...