Upaya2 Mengikis Feodalisme Indonesia

Sehubungan dengan feodalisme yang masih kental sampai sekarang, sering kita bertanya dalam hati apakah para pendahulu kita dulu tidak melakukan upaya-upaya untuk merubahnya, atau malah justru menikmatinya, melestarikannya. Mungkin secara subconcious sebagian besar masyarakat tetap melakukannya karena inertia, dan sudah diterima menjadi "ya begitulah memang masyarakat kita". 
 
Bila kita buka catatan sejarah kembali, ternyata para pendahulu telah banyak juga melakukan upaya untuk keluar dari sistem masyarakat feodal namun belum berhasil. 

Antara lain:

Ulama sufi Syekh Siti Jenar pada abad ke 15 sudah menolak dominasi spiritual dan sosial para bangsawan dan ulama istana, melalui pengajaran Manunggaling Kawulo Gusti. Intinya adalah penyadaran bahwa rakyat biasa memiliki hubungan langsung dengan Tuhan, tanpa harus melalui perantara elite agama atau politik. Gerakan ini dianggap subversif dan akhirnya ditindas, tapi tetap menjadi simbol perlawanan terhadap feodalisme spiritual dan politik.

Setelah proklamasi kemerdekaan, pada tahun 1945-1946 muncul Gerakan Anti-Swapraja di Surakarta yang melakukan penolakan terhadap status Daerah Istimewa Surakarta yang masih mempertahankan kekuasaan raja dan bangsawan. Tokoh seperti Tan Malaka dan dr. Moewardi memimpin gerakan rakyat untuk menolak sistem kerajaan dan menuntut pemerintahan yang demokratis. Akhirnya, status istimewa Surakarta dicabut.  Beda dengan Yogyakarta yang berhasil bertransformasi secara lebih demokratis.

Sejak era Soekarno hingga sekarang, banyak gerakan petani yang menuntut redistribusi tanah (reformasi agraria) dan menolak dominasi tuan tanah atau korporasi. Serikat Petani Indonesia (SPI), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), dan berbagai aksi lokal menentang perampasan lahan. Gerakan ini menentang struktur feodal dalam kepemilikan tanah yang diwariskan dari masa kolonial dan kerajaan.

Gerakan Mahasiswa 1998 menuntut demokratisasi, transparansi, dan penghapusan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme)—praktik yang sangat feodal dalam birokrasi. Meski fokus utamanya adalah reformasi politik dan penggulingan Orde Baru, gerakan ini juga menolak struktur kekuasaan yang sentralistik dan hierarkis.
 
Komunitas seperti Sekolah Rakyat, Indonesia Mengajar, dan Kelas Inspirasi adalah Gerakan Pendidikan Alternatif yang berusaha mendobrak sistem pendidikan yang elitis dan hierarkis. Mereka mendorong partisipasi aktif, kesetaraan antara pengajar dan murid, serta akses pendidikan untuk semua lapisan masyarakat.

Agar upaya-upaya perubahan dapat lebih sukses dicapai, maka strategi-strategi seperti telah diuraikan pada Episode Ignite Hope sebelumnya berjudul Mengikis Feodalisme perlu dilakukan bersama sebagai gerakan nasional.


Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan