Jejak Imlek di Benteng Heritage
1 Maret 2026 kemarin, kami mendapat kehormatan diundang oleh Bapak Udaya Halim, pendiri sekaligus ketua Yayasan Benteng Heritage, dalam perayaan Imlek. Acara ini bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah perjalanan menelusuri jejak sejarah panjang komunitas Tionghoa di Tangerang.
Sejarah Awal
Pada abad ke-14. para pendatang dari daratan Tiongkok mulai tiba di tepi Sungai Cisadane, melalui pelabuhan Teluk Naga. Lokasi yang kini menjadi bagian dari Kota Tangerang, tempat berdirinya Museum Boen Teck Bio dan Roemah Burung, sudah menjadi titik pertemuan budaya sejak ratusan tahun lalu.
Konteks Nusantara
Flashback sedikit ke abad ke-14 itu adalah masa transisi besar di Nusantara. Saat Kubilai Khan mengirim pasukan Tartar ke Jawa Timur untuk menghukum Kertanegara, yang ironisnya sudah wafat dibunuh Jayakatwang. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, memanfaatkan momentum kedatangan pasukan Monggol ini. Bersama para ksatria legendaris seperti Ario Ronggolawe, Semi, Kuti, Nambi, dan Gajah Mada, ia berhasil menumbangkan Jayakatwang dan mendirikan Majapahit. Dengan strategi politik militer yang cerdik, pasukan Monggol yang telah membantu, mereka pukul mundur setelah itu. Maaf tidak ada pilihan lain, karena Raden Wijaya tidak ingin tunduk pada kekuasaan asing.
Artinya, pada masa yang bersamaan ketika Majapahit lahir, arus migrasi manusia lewat jalur laut juga berlangsung masif. Bukan hanya misi militer, tetapi juga pergerakan budaya, perdagangan, dan kehidupan baru.
Identitas Campuran
Kedatangan imigran Hokkian ke Tangerang sejak abad ke-14 menunjukkan betapa lama proses akulturasi ini berlangsung. Di Benteng, banyak keturunan Tionghoa berkulit gelap seperti suku-suku Nusantara lainnya, bahkan tidak sedikit yang beragama Islam. Inilah bukti nyata bahwa Indonesia modern lahir dari percampuran panjang lintas budaya dan etnis.
Refleksi
Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, melainkan fakta sejarah. Kita sudah bercampur baur sejak berabad-abad lalu. Keanekaragaman adalah kekayaan bangsa, sebuah berkah semesta yang harus kita rawat.
Yang paling penting di atas segala perbedaan adalah cinta tanah air, moral, etika, dan integritas. Nilai-nilai ini harus diwujudkan dengan keikhlasan, terutama bagi mereka yang menjadi pejabat publik, agar benar-benar bekerja demi kepentingan rakyat luas, di bawah kibaran Merah Putih selamanya.
Penutup
Mari kita rayakan keberagaman. Karena di balik setiap perbedaan, ada satu jiwa yang sama: Indonesia.
Comments
Post a Comment