Posts

Showing posts from June, 2026

The State, the Military, MBG, and the Crisis of Strategic Thinking

Image
  Tommy Tamtomo The discourse on the relationship between the military and civilian government is not merely about who is more qualified to lead a nation. The deeper question is: what kind of reasoning is required to govern a modern, highly complex society? The military is built upon command, discipline, obedience, chain of command, and speed of execution. In war, these qualities are existential. A decision that is slow or ambiguous can mean defeat. A Modern Nation Is Not a Battlefield A state is a complex system designed to serve a vast spectrum of human needs: infants requiring immunization, children needing education, farmers depending on food stability, urban citizens demanding transport, the elderly requiring healthcare, and businesses seeking regulatory certainty. Managing all of this requires far more than command.   It requires systems thinking. Carl von Clausewitz once wrote that war is “the continuation of politics by other means.” This phrase is often misunders...

Negara, Militer, MBG, dan Krisis Berpikir Strategis

Image
  Tommy Tamtomo. Diskursus mengenai relasi antara militer dan pemerintahan sipil sesungguhnya bukan sekadar soal siapa yang lebih layak memimpin sebuah negara. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: jenis nalar seperti apa yang dibutuhkan untuk mengelola bangsa modern yang sangat kompleks? Militer dibangun di atas command, discipline, obedience, chain of command, dan speed of execution. Dalam perang, kualitas-kualitas ini bersifat eksistensial. Keputusan yang lambat atau ambigu dapat berujung pada kekalahan. Negara modern bukan medan tempur Negara adalah sistem kompleks yang harus melayani spektrum kebutuhan manusia yang amat luas: bayi yang membutuhkan imunisasi, anak yang membutuhkan pendidikan, petani yang bergantung pada stabilitas pangan, masyarakat urban yang memerlukan transportasi, lansia yang membutuhkan healthcare, hingga dunia usaha yang menuntut kepastian regulasi. Mengelola semuanya membutuhkan sesuatu yang jauh melampaui command. Ia membutuhkan systems thinking. Carl ...

Democracy for Sale: Indonesia’s “Wanipiro” Syndrome

Image
  Soegeng Priyono Introduction In its ideal form, democracy is a political system that places sovereignty in the hands of the people. It should serve as a pathway toward a civilized, just, and prosperous society. Yet in Indonesia today, many non-partisan citizens perceive democracy NOT as a noble instrument of governance, but as a marketplace of transactions. The most fitting term to describe this phenomenon is “Demokrasi Wanipiro.” The word Wanipiro comes from a Javanese expression meaning “How much are you willing to pay?”—a question that encapsulates a transactional mindset where courage and opportunity in politics are measured not by ideas, vision, or integrity, but by the size of one’s financial capital. Democracy as a Mask Ironically, democracy in Indonesia often appears as a popular mask. It comes in many versions—procedural democracy, liberal democracy, Pancasila democracy, electoral democracy—but behind these labels lies the same practice: the Wanipiro democracy. Instead ...

Demokrasi Wanipiro

Image
  Soegeng Priyono Pendahuluan Demokrasi, dalam pengertian ideal, adalah sistem politik yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Ia seharusnya menjadi jalan menuju masyarakat beradab, adil, dan sejahtera. Namun di Indonesia, sebagian besar masyarakat non-partisan kini merasakan demokrasi bukan lagi sebagai sarana luhur, melainkan sebagai arena transaksi. Istilah yang paling tepat untuk menggambarkan fenomena ini adalah “ Demokrasi Wanipiro ”. “Wanipiro” berasal dari ungkapan Jawa yang berarti “berani bayar berapa?”. Sebuah pertanyaan yang mencerminkan mentalitas transaksional, di mana keberanian dan kesempatan politik ditentukan bukan oleh gagasan, visi, atau integritas, melainkan oleh seberapa besar modal yang siap digelontorkan. Demokrasi sebagai Topeng Ironisnya, demokrasi di Indonesia sering tampil sebagai topeng populer. Ia hadir dalam berbagai versi: demokrasi prosedural, demokrasi liberal, demokrasi Pancasila, hingga demokrasi elektoral. Namun di balik s...