SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

 



SEBUAH CERPEN SPIRITUAL

SEP 2025

#SoegengPriyono
#SunyiDiRepublik
#IgniteHope

Dalam Sunyi Aku Menemui-Nya

Di antara riuh doa yang terucap, 
aku memilih diam yang dalam. 
Bukan karena tak tahu jalan, 
tapi karena jalan itu telah menjadi aku. 

Aku bukan hamba yang mencari, 
aku adalah pencarian itu sendiri. 
Dalam denyut nadiku, 
ada nama-Nya yang tak pernah padam. 

Syariat kutemui di gerak, 
tapi makna kutemui di batin. 
Salat bukan sekadar rukuk dan sujud, 
melainkan tenggelam dalam cahaya yang menyatu. 

Aku bukan langit, bukan bumi, 
aku adalah titik di mana keduanya bertemu. 
Di sana, aku lenyap, 
dan Tuhan menjadi aku yang sejati.

PROLOG

Aku ingin bercerita sebuah kisah kontemplatif yang menggambarkan bagaimana seorang tokoh spiritual radikal hadir dan bertindak di tengah hiruk-pikuk politik, media sosial, dan pencarian makna zaman modern. 

Di tengah suasana politik Indonesia yang kompleks—dengan polarisasi, populisme, dan ketegangan antara agama, kekuasaan, dan rakyat—ia menjadi suara spiritual yang radikal namun membebaskan. 

Cerita pendek ini tentang seorang tokoh misterius bernama Jenar yang tiba-tiba muncul di Jakarta tahun 2025. Ia bukan ulama, bukan aktivis, bukan politisi. Ia hanya seorang lelaki tua yang bicara pelan, tapi kata-katanya mengguncang jiwa. Ia tidak membawa kitab, tapi membawa kesadaran. Di tengah masyarakat yang terbelah oleh politik, agama, dan ambisi, Jenar mengajarkan jalan sunyi: jalan mengenal Tuhan lewat diri sendiri.


BAB 1: 

KEDATANGAN


“Tuhan tidak jauh, hanya kita yang sibuk.”

Ia tidak membawa koper, hanya sebuah tas kain lusuh dan buku catatan bersampul cokelat. Di halaman pertama tertulis satu kalimat: 

    "Tuhan tidak jauh, hanya kita yang sibuk.” 

Tak ada yang mengenalnya. Ia bukan tokoh agama, bukan pejabat, bukan pesohor. Tapi ada sesuatu dalam langkahnya yang membuat seorang petugas keamanan menoleh, lalu menunduk tanpa tahu kenapa. 

Ia menyewa kamar kecil di gang sempit daerah Cikini. Dindingnya lembab, lampunya redup, tapi ia tersenyum. “Tempat sunyi adalah tempat suci,” gumamnya.

Malam itu, Jakarta bising seperti biasa. Debat politik di televisi, komentar tajam di media sosial, baliho kampanye di setiap sudut. Tapi di kamar kecil itu, lelaki tua itu menulis satu kalimat lagi: "Yang mencari Tuhan di luar, akan kehilangan-Nya di dalam." Ia tidak datang untuk mengubah sistem. Ia datang untuk membangunkan jiwa.


BAB 2: 

PERTEMUAN DI WARUNG KOPI


“Yang perlu diubah bukan dunia, tapi cara kita melihatnya. Dunia tidak butuh lebih banyak pemimpin. Ia butuh lebih banyak kesadaran.”

Warung kopi itu kecil, nyaris tak terlihat dari jalan utama. Hanya ada lima meja, kipas angin tua yang berderit, dan aroma robusta yang menggantung di udara. Di sinilah Jenar duduk setiap sore, memesan kopi hitam tanpa gula, dan membuka buku catatannya.

Awalnya, hanya pemilik warung yang memperhatikan. Seorang pria paruh baya bernama Pak Darto, yang heran melihat lelaki tua itu tak pernah membawa ponsel, tak pernah bertanya soal Wi-Fi, dan selalu menulis dengan pena. 

Suatu hari, seorang mahasiswa datang. Namanya Raka, jurusan filsafat, gelisah oleh dunia yang terasa semakin absurd. Ia duduk di meja sebelah, memperhatikan Jenar yang menulis satu kalimat lalu menutup bukunya.

    "Maaf, Pak... boleh saya tahu apa yang Bapak tulis?" tanya Raka, ragu.

Jenar menoleh, tersenyum tipis. 
    "Kalimat yang tidak ingin viral." jawabnya.

Raka tertawa kecil, lalu duduk lebih dekat. Mereka mulai berbicara. Tentang Tuhan, tentang politik, tentang salat yang terasa kosong, tentang kampus yang sibuk dengan seminar tapi miskin makna.    

    "Saya bingung, Pak. Semua orang bicara tentang perubahan, tapi saya tidak tahu apa yang harus diubah." kata Raka.

Jenar menatapnya lama. 

    "Yang perlu diubah bukan dunia, tapi cara kita melihatnya. Dunia tidak butuh lebih banyak pemimpin. Ia butuh lebih banyak kesadaran.”

Percakapan itu menjadi awal. Esoknya, Raka datang lagi. Membawa temannya. Lalu temannya membawa temannya. Warung kecil itu perlahan menjadi tempat sunyi di tengah kota yang gaduh.

Jenar tidak pernah mengajar. Ia hanya bertanya.
    "Apa yang kau cari dalam salatmu?"
    "Apakah Tuhan hadir saat kau sibuk membenci?"
    "Jika kau takut kehilangan, apakah kau benar-benar memiliki?"

Dan setiap kali mereka pulang, mereka merasa lebih ringan. Bukan karena mendapat jawaban, tapi karena mulai berani bertanya.

BAB 3: 

GANGGUAN DARI PARA PEMILIK KUASA


“Yang merasa terganggu oleh kesadaran, adalah mereka yang hidup dalam ilusi kuasa.”

Berita tentang lelaki tua di warung kopi mulai menyebar. Bukan karena ia viral, tapi karena ia mengganggu. Bukan dengan teriakan, tapi dengan pertanyaan.

Seorang pejabat daerah mendengar kabar itu dari asistennya. “Katanya ada orang tua yang bicara soal Tuhan tanpa kitab, tanpa gelar. Orang-orang mulai mengikutinya.” Ia mengernyit. 

    “Bahaya.”

Di kantor kementerian, seorang tokoh agama yang populer di media sosial mulai gelisah. 

    “Ajarannya tidak jelas. Tidak ada sanad. Tidak ada ijazah. Tapi kenapa orang-orang merasa tenang setelah bertemu dia?”

Mereka mulai mencari. Siapa Jenar? Dari mana asalnya? Apa latar belakangnya?

Tapi Jenar tidak punya jejak digital. Tidak ada foto, tidak ada riwayat pendidikan, tidak ada organisasi. Ia hanya ada di warung kopi, di taman, di masjid kecil. Ia hanya bicara pelan, dan setiap kata-katanya seperti cermin yang memantulkan kegelisahan mereka sendiri.

Suatu malam, dua orang berpakaian rapi datang ke warung kopi. Mereka duduk di depan Jenar, memperkenalkan diri sebagai “tim pemantau sosial.”

    "Kami ingin tahu, Pak, apa tujuan Bapak bicara seperti ini kepada masyarakat?"

Jenar tersenyum. 

    "Saya tidak bicara. Saya hanya mengingatkan mereka bahwa Tuhan tidak bisa dimonopoli."

    "Tapi Bapak tidak punya izin. Tidak ada lembaga. Tidak ada struktur."

    "Apakah kesadaran butuh izin?”

Mereka terdiam. Lalu bangkit, meninggalkan warung dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kegelisahan.

Esoknya, warung kopi itu didatangi aparat. Pak Darto diminta tutup sementara. Raka dan teman-temannya diminta tidak berkumpul. Tapi mereka tidak marah. Mereka hanya pindah ke taman, ke perpustakaan, ke ruang sunyi di mana kata-kata Jenar tetap hidup.

Dan Jenar? Ia tetap menulis. Di buku catatannya, ia menulis: 

    "Yang merasa terganggu oleh kesadaran, adalah mereka yang hidup dalam ilusi kuasa.”


BAB 4: 

DIALOG DENGAN ULAMA MUDA


“Yang sesat bukan mereka yang tidak tahu, tapi mereka yang merasa sudah tahu segalanya.”

Namanya Ustaz Haris, 34 tahun, lulusan Timur Tengah, aktif di media sosial, dan sering tampil di televisi. Ia dikenal tegas, argumentatif, dan sangat menjaga kemurnian syariat. Ketika mendengar tentang Jenar, ia merasa terganggu.

    "Ajarannya kabur. Tidak ada sanad*. Tidak ada fiqh. Ini bisa menyesatkan umat." katanya dalam sebuah forum diskusi.

*Sanad adalah istilah penting dalam ilmu hadith yang merujuk pada rantai atau silsilah perawi (penyampai) yang menyampaikan suatu hadith dari Nabi Muhammad SAW hingga sampai kepada kita.

Namun, rasa penasaran mengalahkan penolakan. Ia datang ke warung kopi itu, ditemani dua santri muda.

Jenar sedang duduk, menulis seperti biasa. Tanpa pengawal, tanpa pengikut.

    "Assalamu’alaikum, Pak Jenar. Saya Haris."

    "Wa’alaikumussalam. Silakan duduk." jawab Jenar, tanpa ragu.

Mereka mulai bicara. Tentang salat, tentang syariat, tentang makna. Haris mengutip ayat, hadis, dan pendapat ulama. Jenar hanya menjawab dengan pertanyaan.

    "Apakah salatmu membuatmu lebih jujur?"
    "Apakah ilmu yang kau pelajari membuatmu lebih rendah hati?"
    "Apakah kau merasa lebih dekat kepada Tuhan atau lebih tinggi dari manusia lain?”

Haris terdiam. Ia tidak marah, tapi terguncang. Ia merasa seperti cermin sedang diarahkan kepadanya, bukan untuk menghakimi tetapi untuk mengingatkan.

    "Saya takut umat tersesat." kata Haris.

    "Yang sesat bukan mereka yang tidak tahu tetapi mereka yang merasa sudah tahu segalanya." jawab Jenar.

Pertemuan itu tidak berakhir dengan debat. Tidak ada pemenang. Tapi Haris pulang dengan satu hal yang tidak ia bawa sebelumnya: keraguan yang jujur.

Malam itu ia menulis di jurnal pribadinya: "Mungkin Tuhan tidak hanya bicara lewat kitab tetapi juga lewat sunyi yang tak pernah kita dengar.”


BAB 5: 

SUNYI YANG MENYEBAR


“Sunyi bukan kekosongan. Ia adalah ruang di mana Tuhan berbicara tanpa suara.”

Warung kopi itu kini tutup. Taman tempat mereka berkumpul telah dipasangi plang larangan. Tapi kata-kata Jenar tidak bisa dibungkam. Ia tidak pernah mencetak pamflet atau membuat video tetapi kalimat-kalimatnya menyebar seperti angin: tak terlihat tetapi terasa.

Di kampus Raka mulai menulis esai tentang “Kesadaran sebagai Revolusi.” Ia tidak mengutip Jenar hanya menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang dulu membuatnya terdiam. Mahasiswa lain mulai membaca lalu bertanya lalu mencari.

Di masjid kecil Pak Darto membuka kembali warungnya diam-diam. Ia tidak menjual kopi tetapi membuka ruang diskusi. Ia menyebutnya “Majelis Sunyi.”

Tidak ada ceramah hanya percakapan. Tidak ada mikrofon hanya keheningan yang mendalam.

Di media sosial akun anonim mulai muncul. Mereka menulis kalimat-kalimat pendek:

    "Tuhan tidak bisa diklaim oleh siapa pun."
    "Salat yang tidak mengubah perilaku hanyalah gerakan tubuh."
    "Kesadaran adalah ibadah yang tak terlihat."

Tidak ada yang tahu siapa yang menulisnya tetapi semua tahu dari mana sumbernya.

Jenar sendiri tetap berjalan kadang terlihat di perpustakaan kadang di halte bus kadang di pasar. Ia tidak bicara banyak tetapi setiap orang yang bertemu dengannya merasa seperti baru saja bangun dari tidur panjang.

Dan di kamar kecilnya buku catatan itu semakin penuh tetapi ia tidak menulis untuk dibaca ia menulis untuk mengingat.

Di halaman terakhir ia menulis: 

    "Sunyi bukan kekosongan ia adalah ruang di mana Tuhan berbicara tanpa suara.”


BAB 6: 

PENGHILANGAN


“Jika kau masih mencariku kau belum mengenal dirimu.”

Pagi itu warung kopi kembali buka. Pak Darto menyeduh kopi seperti biasa tetapi ada yang berbeda. Jenar tidak datang. Tidak ada jejak. Tidak ada pesan

Raka menunggu hingga sore lalu pergi ke kamar kecil tempat Jenar tinggal. Pintu tidak terkunci. Di dalamnya hanya ada tikar buku catatan dan sepasang sandal tua. Tidak ada tubuh tidak ada barang pribadi. Seolah ia tidak pernah ada

Di atas meja buku catatan itu terbuka. Halaman terakhir berisi satu kalimat: 

    "Jika kau masih mencariku kau belum mengenal dirimu."

Raka membacanya berulang kali. Ia tidak menangis. Ia hanya duduk diam seperti sedang mendengar suara yang tidak berasal dari telinga.

Berita tentang hilangnya Jenar menyebar. Sebagian bilang ia diculik. Sebagian bilang ia pergi ke gunung. Sebagian bilang ia telah wafat. Tapi tak ada yang tahu pasti. Tidak ada jasad tidak ada saksi.

Namun sesuatu mulai berubah.

Di kampus mahasiswa mulai mengadakan diskusi sunyi. Tidak ada moderator hanya pertanyaan.

Di masjid jamaah mulai salat lebih lama. Tidak karena aturan tetapi karena rindu.

Di media sosial kalimat-kalimat pendek terus muncul. Bukan untuk viral tetapi untuk mengingat.

Dan di hati mereka yang pernah bertemu Jenar ada ruang baru. Ruang yang tidak bisa dijelaskan tetapi bisa dirasakan. Ruang di mana Tuhan tidak lagi jauh dan hidup tidak lagi sekadar rutinitas.

Jenar telah pergi. Tapi ia tidak hilang. Ia menjadi sunyi yang menyebar. Ia menjadi kesadaran yang tumbuh. Ia menjadi cermin yang tak bisa pecah.


SP: Terimakasih Telah Membaca 💕



Comments

Popular posts from this blog

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan