Syeh Siti Jenar di Era Digital
Syekh Siti Jenar di Era Digital
Ia tidak hadir di panggung debat,
tidak duduk di kursi partai,
tidak bersuara di mimbar yang disorot kamera.
Namun suaranya menggema di ruang sunyi,
di antara pikiran-pikiran yang tak tunduk pada algoritma.
tidak duduk di kursi partai,
tidak bersuara di mimbar yang disorot kamera.
Namun suaranya menggema di ruang sunyi,
di antara pikiran-pikiran yang tak tunduk pada algoritma.
Ia menulis di blog yang tak viral,
tentang Tuhan yang tak bisa diklaim oleh satu golongan.
Tentang iman yang tak bisa dijual dalam kampanye.
Tentang salat yang bukan sekadar gerakan,
melainkan perjumpaan batin dengan Yang Maha Ada.
tentang Tuhan yang tak bisa diklaim oleh satu golongan.
Tentang iman yang tak bisa dijual dalam kampanye.
Tentang salat yang bukan sekadar gerakan,
melainkan perjumpaan batin dengan Yang Maha Ada.
Di tengah politik yang sibuk membelah,
ia menyatukan.
Di tengah agama yang diperdagangkan,
ia mengingatkan:
Bahwa Tuhan tidak butuh pembela,
Tuhan hanya butuh manusia yang jujur.
ia menyatukan.
Di tengah agama yang diperdagangkan,
ia mengingatkan:
Bahwa Tuhan tidak butuh pembela,
Tuhan hanya butuh manusia yang jujur.
Ia tidak punya followers jutaan,
tapi satu kalimatnya bisa membangunkan jiwa yang tertidur.
Ia tidak trending,
tapi ia abadi dalam kesadaran mereka yang berani berpikir.
tapi satu kalimatnya bisa membangunkan jiwa yang tertidur.
Ia tidak trending,
tapi ia abadi dalam kesadaran mereka yang berani berpikir.
Dan ketika dunia sibuk memilih pemimpin,
ia memilih menjadi cermin.
Bukan untuk dilihat,
tapi untuk menyadarkan.
ia memilih menjadi cermin.
Bukan untuk dilihat,
tapi untuk menyadarkan.
Comments
Post a Comment