HIJAU PASPOR, SATU BANGSA



Hijau Paspor, Satu Bangsa

Di negeri zamrud khatulistiwa,
terbit mentari di atas ego yang membara.
Pejabat duduk di singgasana megah,
rakyat berjalan di lorong gelisah.

Individu sibuk dengan urusan sendiri,
tak peduli tetangga yang tak bisa berdiri.
Di jalan, di kantor, di ruang publik,
semua berlomba jadi paling unik.

Tapi dunia tak melihatmu sebagai pribadi,
melainkan bagian dari satu identitas yang pasti.
Bahasamu, kulitmu, langkahmu di bumi asing,
adalah Indonesia yang mereka tafsirkan dengan ring.

Paspor hijau di tanganmu,
tak peduli jabatan atau hartamu.
Urus visa Eropa saja tetap antre panjang,
karena kita bukan warga Singapura yang mudah melayang.

Wahai pejabat yang konon sedang kejatuhan amanah,
ingatlah: jabatan bukan ladang mewah.
Kerjalah sesuai peran dan tanggung jawab,
bukan untuk gengsi, bukan untuk serakah.

Apa arti mobil dinas dan rumah besar,
jika rakyatmu makan pun masih sukar?
Siapa tahu anakmu kelak bukan pejabat,
tapi rakyat biasa yang hidupnya berat.

Jangan wariskan ego dan kemewahan semu,
wariskanlah kejujuran dan kerja yang jitu.
Karena bangsa besar bukan soal citra,
tapi soal nurani dan cara kita bekerja.

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan