Di Negeri bernama IRONI
NEGERI IRONI
Di negeri ini, kita tumbuh dengan harapan.
Bahwa pendidikan adalah jalan keluar.
Bahwa kerja keras akan dibalas setimpal.
Bahwa kejujuran masih punya tempat.
Bahwa pendidikan adalah jalan keluar.
Bahwa kerja keras akan dibalas setimpal.
Bahwa kejujuran masih punya tempat.
Tapi realita bicara lain.
Anak-anak pintar, lulusan terbaik, masuk korporasi besar.
Mereka bekerja siang malam, mengejar angka, mengejar promosi.
Tapi hidup mereka rapuh.
Tak boleh salah. Tak boleh lambat. Tak boleh lelah.
Karena satu kesalahan bisa menghapus segalanya.
Mereka bekerja siang malam, mengejar angka, mengejar promosi.
Tapi hidup mereka rapuh.
Tak boleh salah. Tak boleh lambat. Tak boleh lelah.
Karena satu kesalahan bisa menghapus segalanya.
Di sisi lain, mereka yang tak punya akses serupa, masuk sekolah kedinasan.
Biaya ditanggung negara.
Tapi pintu masuknya tak selalu bersih.
Ada harga yang tak tertulis.
Dan orang tua pun rela, karena masa depan terasa lebih pasti.
Biaya ditanggung negara.
Tapi pintu masuknya tak selalu bersih.
Ada harga yang tak tertulis.
Dan orang tua pun rela, karena masa depan terasa lebih pasti.
Setelah lulus, jabatan menanti.
Gaji, tunjangan, fasilitas—semua tersedia.
Lalu kekuasaan mulai dimainkan.
Bukan untuk melayani, tapi untuk menguasai.
Pendapatan sampingan tumbuh di balik meja.
Lebih besar dari gaji resmi.
Lebih licik dari sistem yang mengizinkannya.
Gaji, tunjangan, fasilitas—semua tersedia.
Lalu kekuasaan mulai dimainkan.
Bukan untuk melayani, tapi untuk menguasai.
Pendapatan sampingan tumbuh di balik meja.
Lebih besar dari gaji resmi.
Lebih licik dari sistem yang mengizinkannya.
Pejabat jadi simbol kemewahan.
Jabatan jadi lotere.
Siapa pun bisa menang, asal tahu cara bermain.
Dan rakyat?
Hanya penonton.
Kepercayaan runtuh.
Minus.
Jabatan jadi lotere.
Siapa pun bisa menang, asal tahu cara bermain.
Dan rakyat?
Hanya penonton.
Kepercayaan runtuh.
Minus.
Kita bertanya:
Masih adakah niat untuk berubah?
Masih adakah pemimpin yang melihat jabatan sebagai amanah, bukan ladang panen?
Masih adakah nurani di balik jas dan dasi?
Masih adakah niat untuk berubah?
Masih adakah pemimpin yang melihat jabatan sebagai amanah, bukan ladang panen?
Masih adakah nurani di balik jas dan dasi?
Karena negeri ini tak kekurangan orang pintar.
Yang kita cari adalah mereka yang berani jujur.
Yang kita tunggu adalah mereka yang tak silau oleh privilese, tapi terpanggil oleh tanggung jawab.
Yang kita cari adalah mereka yang berani jujur.
Yang kita tunggu adalah mereka yang tak silau oleh privilese, tapi terpanggil oleh tanggung jawab.
Jika perubahan tak dimulai dari atas,
maka suara dari bawah harus lebih lantang.
Lebih berani.
Lebih jujur.
maka suara dari bawah harus lebih lantang.
Lebih berani.
Lebih jujur.
Karena kita bukan sekadar penonton.
Kita adalah pemilik negeri ini.
Dan kita berhak bertanya, menuntut, dan berharap.
Kita adalah pemilik negeri ini.
Dan kita berhak bertanya, menuntut, dan berharap.
Comments
Post a Comment