Bagaimana Mengikis Feodalisme di Indonesia
Flashback success-story Jepang, Perancis, dan Korea Selatan dalam upayanya melepaskan diri dari budaya feodal negaranya.
Restorasi Meiji di Jepang dilaksanakan pada awal abad 19 dipenghujung jaman Shogunate Tokugawa. Peralihan ke Jepang modern. Resistensi bersenjata dari kaum Samurai yang sangat militeristik tidak main-main. Semi dokumentasi jaman itu dapat dilihat pada film The Last Samurai, dan Samurai X. Poin penting yang terjadi selama periode ini:
- Sistem kelas samurai dan feodalisme dihapus.
- Reformasi pendidikan militer secara massive.
- Percepatan industrialisasi dan adopsi teknologi Barat berbasis kompetensi.
- Public School diperkenalkan untuk mencetak warga negara yang terdidik dan mandiri.
- Pembentukan konstitusi baru pada tahun 1889.
Revolusi Perancis terjadi pada abad ke 18 (seabad lebih awal dibanding Jepang) menghapus Aristokrasi dan memperkenalkan prinsip “liberté, égalité, fraternité”. Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan. Negara memisahkan agama dari politik. Dominasi elite gereja dikurangi. Membangun pendidikan dan hukum universal: semua warga negara diperlakukan sama di depan hukum secara benar-benar, bukan hanya lip service.
Pemerintah Korea Selatan baru mulai melakukannya pada pertengahan tahun 1960an melalui investasi besar-besaran dalam bidang pendidikan guna mendorong mobilitas sosial melalui pendidikan tinggi. Melaksanakan reformasi birokrasi. Posisi publik diisi berdasarkan ujian dan kompetensi. Membangun budaya kerja keras membangun prestasi melalui usaha. Dalam 40tahun saja, Korsel sudah dapat menunjukkan hasil yang luar biasa. Apalagi sekarang.
Pertanyaannya kapan Indonesia akan melakukannya secara lebih terstruktur, massive dan sistemic.
Strategi konkret yang dapat diterapkan di Indonesia untuk menghapus warisan feodalisme agar dapat membangun masyarakat yang lebih adil dan progresif adalah melalui:
1. Reformasi Struktural dan Regulasi
- Melakukan rekrutmen pejabat publik secara transparan. Sistem seleksi harus berbasis merit.
- Membuat regulasi yang melarang praktik pengangkatan keluarga atau kolega dalam jabatan strategis
- Mengurangi dominasi elite dalam kepemilikan tanah dan SDA. Saat ini lebih dari 70 persen SDA dikuasai Korporasi (tambang, lahan sawit, hutan usaha)
2. Transformasi Pendidikan
- Mereformasi Kurikulum berbasis pemikiran kritis yang dapat mendorong siswa berani bertanya, berdiskusi, dan menantang ide, bukan sekadar menerima
- Melatih Guru menjadi fasilitator, bukan otoritas tunggal
- Memastikan akses pendidikan berkualitas sampai ke pelosok, agar tidak hanya dinikmati oleh kelompok elite/kota besar.
3. Strategi Kebudayaan
- Media dan Seni dimanfaatkan sebagai alat dekonstruksi feodalisme dan mengajak masyarakat berpikir ulang tentang relasi kuasa
- Ganti citra “pemimpin tunggal yang tak bisa salah” dengan model kolaboratif dan partisipatif
- Revitalisasi nilai lokal yang egaliter, menjunjung musyawarah dan gotong royong, bukan hierarki
4. Perubahan Politik Praktis
- Hindari dominasi keluarga dalam kepemimpinan Parpol dan pencalonan legislatif
- Tingkatkan literasi politik Rakyat agar dapat memilih pemimpin berdasarkan visi dan rekam jejak, bukan asal “berwibawa” apalagi hanya berdasarkan popularitas semata
- Berikan ruang bagi komunitas lokal untuk mengatur diri sendiri tanpa intervensi elite pusat
5. Perubahan Mentalitas
- Dorong budaya kritik sehat. Kritik bukan penghinaan, tapi bentuk cinta terhadap kemajuan
- Hapus glorifikasi jabatan. Penghormatan bukan karena posisi, tapi karena kontribusi dan integritas seorang pejabat.
- Bangun kesadaran kolektif publik yang mengajak masyarakat untuk menolak patronase dan membangun solidaritas horizontal
Gen Z dan Millenial, besar kemungkinan akan memelopori 5 Strategi Konkret diatas.
Millenial lahir pada 1981-1996, usianya sekarang antara 29-44tahun. Berdasarkan proyeksi terbaru dari BPS, populasinya pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 69,38 juta jiwa, atau sekitar 24,2% dari total populasi nasional yang diproyeksikan sebesar 285 juta jiwa.
Gen Z lahir pada 1997-2012 usianya sekarang antara 13-28tahun. Di Indonesia saat ini mencapai sekitar 74,93 juta jiwa, atau sekitar 27,94% dari total populasi.
Total Gen Z dan Millenial ada 52.14% dari total populasi, atau 144juta lebih.
nantikan episode Ignite Hope selanjutnya mengenai
contoh2 gerakan sosial di Indonesia yang secara eksplisit atau implisit menentang feodalisme dan struktur kekuasaan yang hierarkis
Comments
Post a Comment