Dari Feodalisme Menuju Egaliterisme
Secara teori, feodalisme telah ditinggalkan Indonesia sejak kemerdekaan, namun inertia budaya dan struktur sosial masih membayangi banyak aspek kehidupan kita sampai sekarang. Ternyata sangat tidak mudah melepaskan diri dari kebiasaan sehari-hari yang seolah sudah menjadi norma.
Kabar baiknya ada beberapa negara yang telah berhasil melepaskan diri dari belenggu budayanya yang sudah berurat berakar selama beratus-ratus tahun. Antara lain yang telah dilakukan Jepang dengan Restorasi Meiji nya.
Bagi Indonesia ada cahaya diujung terowongan, jika benar-benar berniat untuk melakukan perubahan. Langkah pertama tentu membangun Awareness dulu terhadap situasi dan kondisi saat ini sebagai baseline. Episode Ignite Hope kali ini dimaksudkan untuk itu tentu.
Beberapa kendala utama yang membuat sulit melepaskan diri belenggu budaya saat ini a.l.
1. Hierarki Sosial yang Kaku
Relasi atasan-bawahan masih sangat dominan baik di pemerintahan, pendidikan, maupun dunia kerja. Loyalitas lebih dihargai daripada kompetensi dan meritokrasi. Kritik terhadap pemimpin dianggap tabu sehingga inovasi dan partisipasi publik terhambat
2. Patronase dan Nepotisme
Posisi strategis sering diberikan berdasarkan hubungan personal atau keluarga, bukan atas dasar kemampuan. Sistem patron-klien ini memperkuat struktur kekuasaan yang tidak demokratis dan sulit diberantas.
3. Feodalisme dalam Pendidikan
Guru / dosen dianggap sebagai otoritas mutlak, sementara siswa hanya pasif menerima. Kurikulum lebih menekankan kepatuhan daripada berpikir kritis. Ketimpangan akses pendidikan antara kota dan desa memperparah ketidaksetaraan.
4. Ketergantungan pada Figur Pemimpin
Banyak orang lebih merasa nyaman menunggu arahan dari “atas” daripada mengambil inisiatif sendiri. Ini mengakibatkan budaya pasif, takut salah, tidak berani ambil tanggung-jawab sehingga memperlambat kemajuan sosial-politik.
5. Korupsi dan Kolusi
Praktik korupsi sering kali dilanggengkan oleh elit yang memanfaatkan struktur feodal untuk kepentingan pribadi. Warisan kolonial dan kerajaan memperkuat pola eksploitasi dan ketidakadilan.
6. Reproduksi Ketidakadilan Struktural
Sistem pemeringkatan sekolah, birokrasi yang kaku, dan resistensi terhadap perubahan memperkuat ketimpangan. Feodalisme modern tidak hanya terjadi antara raja dan rakyat, tapi juga dalam relasi kuasa sehari-hari: dosen-mahasiswa, bos-karyawan, bahkan orang tua-anak.
Contoh beberapa negara yang telah terbukti berhasil mengatasi warisan feodalisme dan membangun masyarakat yang lebih egaliter dan progresif:
Jepang melalui Restorasi Meiji
Restorasi Meiji dimulai pada 3 Januari 1868 s/d 11 Februari 1889. Ini adalah titik balik besar dalam sejarah Jepang, ketika kekuasaan politik berpindah dari Shogunate Tokugawa ke Kaisar Meiji, menandai berakhirnya era feodal dan dimulainya modernisasi Jepang secara besar-besaran.
Beberapa hal penting yang terjadi selama periode ini:
- Sistem kelas samurai dan feodalisme dihapus.
- Reformasi pendidikan militer secara massive.
- Percepatan industrialisasi dan adopsi teknologi Barat berbasis kompetensi.
- Public School diperkenalkan untuk mencetak warga negara yang terdidik dan mandiri.
- Pembentukan konstitusi baru pada tahun 1889.
Tiongkok melalui Revolusi Sosial
Mao Zedong menghancurkan feodalisme melalui Reformasi Agraria dan penghapusan tuan tanah. Pemerintah mengkampanyekan kesetaraan kelas dan gender melalui propaganda dan kebijakan struktural. Namun... metode ini ekstrem dan menimbulkan dampak sosial sangat besar. Bukan model yang dapat ditiru mentah-mentah.
Korea Selatan melalui Meritokrasi dan Teknokrasi
Pemerintah melakukan investasi besar dalam pendidikan guna mendorong mobilitas sosial melalui pendidikan tinggi. Melaksanakan reformasi birokrasi. Posisi publik diisi berdasarkan ujian dan kompetensi, bukan koneksi keluarga. Membangun budaya kerja keras untuk membangun prestasi melalui usaha, bukan warisan. Ini baru dimulai pada pertengahan tahun 60an. Dalam 40tahun sudah kelihatan hasilnya hingga menjadi Korea Selatan yang maju seperti sekarang.
Prancis melalui Revolusi dan Sekularisme
French Revolution 1789 menghapus Aristokrasi dan memperkenalkan prinsip “liberté, égalité, fraternité”. Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan.
Negara memisahkan agama dari politik. Dominasi elite gereja dikurangi.
Membangun pendidikan dan hukum universal: semua warga negara diperlakukan sama di depan hukum secara benar-benar, bukan hanya lip service.
Pelajaran untuk Indonesia
Bangsa Indonesia perlu melakukan Reformasi Struktural. Sistem rekrutmen publik yang dibuat transparan, berbasis kompetensi. Sekolah-sekolah tinggi kedinasan calon ASN spt STPND, Keimigrasian, polisi dst yang dibiayai negara harus bebas dari mafia dan sogokan. Tentu bisa jika ada kemauan dan enforcement.
Kurikulum harus dibuat agar siswa mampu berpikir kritis, mandiri, bukan sekadar patuh.
Media, seni, dan pendidikan dimanfaatkan untuk membangun narasi baru tentang Budaya Egaliter yang menolak hierarki sosial lama.
nantikan episode Ignite Hope selanjutnya mengenai
strategi konkret yang dapat diterapkan di Indonesia hari ini—dari reformasi birokrasi sampai perubahan pola pikir di sekolah dan keluarga
Comments
Post a Comment