Personal Statement
Jaman sebelum Covid19, personal statement adalah sesuatu yang penting banget. Bagi orang yang mampu, tampil unik / beda dari yang lain adalah satu keniscayaan. Personalisasi. Dari merk ballpen, jam tangan, baju, tas, ikat pinggang, kacamata, sampai dengan kendaraan, rumah, restoran yang dikunjungi dst diusahakan untuk selalu mencerminkan siapa dirinya. Bahkan sampai ketika acara menikahkan anaknyapun ada kriteria khusus seperti harus menyewa tempat, perias pengantin, catering, pre-wedding dokumentasi pada kelas tertentu. Sesuai standing-nya.
Dalam masa pandemi ini, semuanya totally disrupted. Banyak kejadian yang sebelumnya tak terbayangkan terjadi. Eat-out berubah menjadi Go-food; acara kumpul-kumpul menjadi vidcon; sepasang kekasih menikah tidak dapat dihadiri oleh orang tua masing-masing karena travel lockdown; mempelai putri dinikahkan oleh penghulu dengan mempelai prianya melalui vidcon ditambah masih harus mengisolasi diri karena dia sedang terkena Covid19; dst.
Belum lagi ketika sahabat, teman dekat meninggal dunia, orang cukup mengirim doa karena takut melayat kerumah duka atau ke makam.
Pandemi memaksa semua orang untuk kembali ke esensinya. Apa sih tujuan dari semua tindakan yang dilakukan ini sebenarnya.
Dalam bulan puasa ini jadi teringat ajaran Islam yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak suka dengan perilaku riya atau pamer. Sesuatu yang tidak mudah dilaksanakan di jaman pra-pandemi. Jika rejeki banyak, kenapa tidak memakainya untuk memproyeksikan diri. Perlu personal statement ditengah negara dengan penduduk 270 juta lebih ini :))
Ternyata hidup bersahaja walaupun punya kekayaan lebih dari cukup itu sebuah kenikmatan juga ya yang patut disyukuri.
Selamat melanjutkan ibadah puasa Hari ke 16 kawan. Semoga ibadahnya diterima oleh Yang Maha Agung !
Comments
Post a Comment