Lebaran

 


Idul Fitri 1442 H yang datang tepat bersamaan harinya dengan Kenaikan Isa Al Masih a.s. seperti ini sungguh amat jarang terjadi.  Semoga ini pengingat dari Tian kepada kita semua bahwa sesungguhnya kita ini bersaudara walau tentu ada perbedaan. Jangankan keyakinan yang sifatnya abstract, lha wong sidik jari kitapun tak ada yang sama padahal penduduk bumi ada lebih dari 8 milyar manusia.

Lebaran ini, sebagaimana tahun lalu sebaiknya kita tidak berkumpul-kumpul. Kalopun mau, melalui video conference tentu lebih aman bagi semua. Makanan dan penganan enak yang sudah dibuat khusus untuk occasion ini cukup dinikmati berdua dengan spouse masing-masing. 

Setelah berpuasa sebulan penuh, dan bila puasanya berhasil maka mindset kita reset kembali ke fitrah. Hakikat. Basic. Esensi. Tidakkah alam mengajarkan, mengingatkan dengan indah sekali? SubhanAllah. Maha Suci Tuhan 🙏

Makanan enak, bunga semerbak wangi diruangan, baju baru, apalagi bojo baru bukanlah menu pokok / wajib untuk merayakan lebaran. Namun penyadaran pengingat diri akan sangkan paraning dumadi, mau kemanakah kita hidup ini.

Sudah dua lebaran terakhir Indonesia (sebagaimana banyak negara lain) masih dalam masa pandemi Covid 19. Kondisi bisnis pada segala sektor masih struggling dan mencoba surviving. Kecuali sektor-sektor tertentu yang makin kuat seperti digital payment, marketplace, logistik, kuliner pesan online. Ekonomi kita pada kwartal 1 tahun ini masih minus. Resesi.

Kondisi ini mungkin tidak benar-benar dapat dihayati oleh para pejabat pemerintah dan politisi Indonesia karena gaji, perquisites, dan privilese mereka tidak berkurang. Bahkan mungkin makin kuat buying powernya. Maklum mereka berjalan diatas awan. 

Hari-hari pasca Lebaran ini menyisakan rasa was-was mendalam bagi kita semua. Akankah terjadi lonjakan kasus positif Corona mengingat jutaan orang pulang kampung, yang sebentar lagi akan balik ke ibu kota dan kota-kota besar lainnya. Kejadian yang menimpa India akankah menimpa Indonesia. Kuatnya keharusan mudik untuk merayakan Lebaran disini mirip dengan kuatnya keinginan masyarakat India merayakan festival keagamaan di Sungai Gangga. 

Harapan dan doanya tentu saja jangan. Namun hidup seringkali tidak seperti yang diharapkan, maka disamping berdoa dan berharap alangkah baiknya jika kita berpikir secara prudent, dan pro-aktif.

Para tenaga kesehatan di garis depan adalah manusia juga yang tidak kebal terhadap serangan Covid 19 walaupun sudah di vaksin, serta berhati-hati. Mereka bekerja extra keras. Janganlah niat tulus mereka menjalankan tugas tidak mendapat reward yang pantas. Kepada merekalah kita masyarakat umum ini bergantung. Jadi tolonglah pemerintah jaga, perhatikan, wellbeing mereka. Mendidik dokter sampai spesialis itu butuh waktu 13 tahun paling cepat. Jauh lebih panjang dibanding mendidik lulusan SMA menjadi insinyur, akuntan, lawyer, ahli pajak. Indonesia masih sangat kekurangan tenaga kesehatan.

Akhir kata "Taqobbalallahu minna wa minkum, Taqobbal Yaa Kariim. Shiyamana wa Shiyamakum" Mohon maaf lahir dan batin. 

Selamat merayakan Kenaikan Isa Al Masih bagi teman-teman Kristiani.

Cheers

1 Syawal 1442 H

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan