PASAR GEDHE 1
Pasar gedhe harfiah artinya pasar besar. Tempat banyak pedagang berkumpul menjual dagangannya. Semua keperluan tersedia disana. Pasar gede biasanya setiap hari selalu ramai. Beda dengan pasar Senin, Jumat, Kliwon, Wage, yang pada hari-hari sesuai namanya ramai.
Pasar adalah entitas sangat strategis. Fasilitas umum primer sebagaimana rumah sakit, sekolah, taman, tempat olahraga, angkutan umum.
Indonesia dengan jumlah penduduk no 4 terbesar di dunia sungguhlah merupakan satu pasar amat sangat besar. Kebutuhan pokok dan tidak pokok rakyatnya banyak sekali bukan saja sandang pangan papan tetapi juga kesehatan, pendidikan, produk teknologi, obat-obatan, vaksin, kertas uang, produk petrokimia, logam dll, sampai alutsista (alat utama sistem pertahanan).
Karena menyangkut jumlah penduduk yang hampir 300juta jiwa, maka semua urusan administrasi apapun perlu ditunjang dengan teknologi informasi yang memadai. Baik itu pajak, KTP, kesehatan, jual-beli, perijinan, pertanahan, aset negara, statistik, keuangan, moneter, dst. Tanpanya, semua urusan akan sangat tidak efektif dan tidak efisien.
Lazimnya sebuah pasar, selain pengunjung dan pembeli, disana tentu ada penguasanya, premannya, dan para pemasok besar dan kecil.
Para pemasok besar berlomba-lomba agar pasar tetap membeli barang-barang darinya sebanyak mungkin. Jika mungkin mereka tentu ingin membuka pabrik di tengah pasar. Jangan coba-coba pihak lain bangun duluan. Mereka akan dengan segala cara membuat gaduh sehingga keinginan tersebut gagal.
Juga ketika PT Chandra Asri awal-awal akan membangun pabrik petrokimia untuk memenuhi pasar dalam negeri. Pemasok petahana besar a.l. Sumitomo, Marubeni menjadi meriang. Musti dicari cara supaya kalo tidak bisa nyetop, merekapun bisa ikut memiliki.
Tidak ada yang istimewa. Semua pemasok petahana tentu berkepentingan memprotek buyer marketnya mati-matian. Investasi yang sudah ditanamkan musti dioptimalkan. Jangankan kertas uang, pabrik tinta uangpun ada penguasanya. Bukan pemain lokal tentu.
Terlebih lagi produk yang memanfaatkan teknologi tinggi, tidak akan mungkin di-share dengan pemain lokal demi mendapat akses ke pasar lokal. Transfer of Technology itu tidak ada. Kalaupun ada tentu ToT teknologi sudah usang, 5-10 langkah kebelakang. Mana ada pemilik kekayaan intelektual yang butuh effort besar dan waktu sangat lama untuk mencapainya, tiba-tiba bersedia berbagi dengan pihak lain. Dream on !
Yang ada adalah rebut teknologi. Semua negara maju pada awal produksi mulai dengan clone. Contekan. Misalnya Japan (Nikon menyontoh Leica), Korea (dipertengahan 60an membeli mobil jadi, bongkar abis lalu pasang lagi), raksasa China, Taiwan juga mulanya demikian.
Namun karakter kuat dari bangsa-bangsa tersebut tidak berhenti pada membuat barang KW3 s/d KW1. Mereka terus membangun, mengumpulkan tacit knowledge sendiri plus R&D agar satu saat dapat membangun produk yang orisinil hasil karya sendiri. Memerlukan kerja keras, kerja cerdas, dukungan pemerintah penuh untuk penyediaan SDM yang tangguh dan terampil, yang tidak mungkin feasible dilakukan sendiri oleh perusahaan.
Masa depan Indonesia, kalau mau maju, adalah harus mampu mandiri sebanyak mungkin. Bukan hanya pola penyiapan dan pengembangan SDM terampil yang baik namun harus didukung dengan regulasi yang mendukung, insentif menarik, stabilitas keamanan dan sosial. Sangat tidak mudah bagi Indonesia yang majemuk ini. Semboyan boleh Bhinneka Tunggal Ika, namun jika masyarakatnya gagal memaknai dengan benar maka Indonesia hanya akan tinggal menjadi pasar gedhe bagi pabrikan manca negara saja.

Comments
Post a Comment