PEMBURU
Mendengar kata pemburu langsung orang berasosiasi dengan keberanian, kejantanan, machoness, kekuatan.
Misalnya pemburu babi hutan yang merusak tanaman penduduk.
Kalo pemburu hantu, seperti Hariri Mak, lain. Dia seleb. Memburu untuk tujuan komersial. Banyak kastemernya. Banyak yang percaya pemburu hantu. Mungkin doa dan jampi-jampinya sudah tak manjur. Hantu tak takut orang. Tapi orang takut hantu.
Ada juga sih yang tak takut hantu, tapi takut (baca: waspada) pada orang jahat. Khususnya ketika jalan dimalam yang sepi. Sendiri. Atau naik sepeda di pagi buta atau malam gelap.
Pemburu harta karun lain cerita. Mereka memburu tempat-tempat tua seperti makam (tomb raider), candi, kapal karam. Kalau berhasil, besar sekali reward-nya. Contoh yang sangat terkenal adalah Lara Croft, Indiana Jones. Ya itu memang film yang terinspirasi pemburu harta karun beneran. Tapi pemburu kapal karam benar ada dan merupakan job yang legit, berijin, berlisensi.
Pemburu wanita tidak usah dibahas. Pemburu pria ada juga. Kalo tidak mana mungkin Darryl Hall & John Oates bikin lagi judulnya Man Eater.
Namun dari segala jenis pemburu, yang paling top di Indonesia dan belum terkalahkan adalah pemburu rente. Apakah itu?
Pemburu rente adalah pengusaha yang mendapatkan lisensi khusus, monopoli, dan fasilitas lain dari penguasa sekaligus menghambat pelaku lain masuk pasar. Pemburu rente ini bisa pejabat langsung yang memiliki kekuasaan untuk mengatur kebijakan atau bisa pengusaha yang memiliki koneksi politik ke penguasa. Mereka memiliki pengaruh besar dan juga dana besar sehingga sulit digoyahkan. Jika ada yang mencoba menyerang, mereka akan menyerang balik dengan serangan yang lebih mematikan.
Kok bisa? ya bisa lah. Menyerang dengan mematikan butuh taring (baca kekuatan senjata, politik). Si pemburu rente mah cukup take very good care para pemilik-pemilik taring itu. Yang ganas-ganas biarlah tetap guanas terhadap mereka para pemimpi masyarakat madani (seperti masyarakat Skandinavia) tapi lulut (jinak) banget pada bowheer. Model hubungan tauke-centeng begitulah. Mau masyarakat menjadi lebih baik atau tidak, mah EGP. Bahasa Betawinya "urusan anak cucu mah biarin aje nanti, bukan urusan gue".
Saloom !
2 Syawal 1442 H

Comments
Post a Comment