Yin Yang
Misalnya, inti dari kekuatan adalah kelemahan dan inti dari kelemahan adalah kekuatan. Kesabaran menerima kegagalan adalah inti kekuatan. Kompleksitas rasa rendah diri adalah inti kesombongan. Takut kalah adalah inti mau menang sendiri. Paranoia adalah inti dari perilaku agresif. Takut miskin adalah inti dari nafsu penumpukan harta. Kegersangan cinta kasih adalah inti dari kekerasan. Rasa rendah diri komunal adalah inti pemujaan pada yang serba asing. Malu menjadi hitam adalah inti dari tema kampanye penjualan obat pemutih.
Budaya Bali secara cantik mengajarkan kepada kita sebuah lakon Barong vs. Rangda. Barong melambangkan sifat-sifat baik sedangkan Rangda melambangkan sifat-sifat buruk. Pertempuran antar keduanya berlangsung abadi, tak ada yang menang atau kalah selamanya. Sesungguhnyalah Barong dan Rangda bersemayam dalam tubuh manusia yang sama. Terserah pada manusia mau lebih menonjolkan siapa dan pada saat yang mana.
Idealnya kedua sisi selalu diupayakan agar dapat seimbang sehingga terbentuk ruang untuk bernafas, berkontemplasi, dan menyusun strategi melanjutkan perjalanan. Jika tidak, alam akan berusaha untuk mencapainya sendiri. Naik ke level yang kebih tinggi (upward spiraling) atau turun ke level rebih rendah (downward spiraling). Jika kecenderungannya menurun terus, maka yang terjadi adalah proses pembusukan menuju kehancuran. Pandemic Corona yg sedang melanda dunia saat ini adalah upaya alam menuju keseimbangan baru.
Tuhan mengaruniai manusia dengan dua engines sangat penting yaitu otak (Yang, fisikal) agar dapat berPIKIR dengan baik, dan hati (Yin, spiritual) agar dapat meRASA. Didalam otakpun ada sisi kanan dan kiri. Kanan untuk memikirkan yang sifatnya abstrak seperti warna, bahasa, kreativitas, intuisi, dsb. Kiri untuk berpikir secara analitik, melakukan kalkulasi, memperhitungkan untung/rugi cost/benefits, dst. Didalam hatipun ada dua sensor yang dapat membantu manusia mengenali sesuatu itu baik atau buruk.
Menurut ilmu fisika quantum, semua hal di dunia ini saling interconnected. Maka menjadi masuk akal bahwa hal-hal yang tadinya abstrak seperti kekuatan doa itu ada, telepati, hipnotis itu dapat dijelaskan secara ilmiah.
Tokoh-tokoh dunia seperti Leonardo da Vinci, Srinivasa Ramanujan (penemu perkalian matrix), Shakuntala Devi (lady calculator), orang suci seperti Budha Gautama, dan para Nabi itu mungkin belajarnya (atau mendapat pencerahannya) melalui media quantum. Wallahualam. Yang jelas mereka bukan lulusan S3 dari universitas manapun :)
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah swt !
Amiin 🙏🙏

Comments
Post a Comment