Yin Yang

 

Sejak ribuan tahun lalu, masyarakat Tiongkok kuno sudah mengenal wisdom keseimbangan melalui konsep Yin-Yang yang dilambangkan oleh dua lingkaran berekor berwarna putih (Yin) dan hitam (Yang). Dua-duanya berukuran sama besar, berlawanan. Yin melambangkan kelembutan, Yang melambangkan kekerasan. Yin terang, Yang gelap. Yin feminin, Yang maskulin. Yin lemah, Yang kuat. Yin jiwa, Yang raga. Yin badan halus, Yang badan kasar. Dan seterusnya. Perlu diperhatikan bahwa didalam sifat Yin ada Yang, dan sebaliknya didalam sifat Yang ada Yin. Artinya tidak ada di dunia ini yang absolut.

Misalnya, inti dari kekuatan adalah kelemahan dan inti dari kelemahan adalah kekuatan. Kesabaran menerima kegagalan adalah inti kekuatan. Kompleksitas rasa rendah diri adalah inti kesombongan. Takut kalah adalah inti mau menang sendiri. Paranoia adalah inti dari perilaku agresif. Takut miskin adalah inti dari nafsu penumpukan harta. Kegersangan cinta kasih adalah inti dari kekerasan. Rasa rendah diri komunal adalah inti pemujaan pada yang serba asing. Malu menjadi hitam adalah inti dari tema kampanye penjualan obat pemutih.

Budaya Bali secara cantik mengajarkan kepada kita sebuah lakon Barong vs. Rangda. Barong melambangkan sifat-sifat baik sedangkan Rangda melambangkan sifat-sifat buruk. Pertempuran antar keduanya berlangsung abadi, tak ada yang menang atau kalah selamanya. Sesungguhnyalah Barong dan Rangda bersemayam dalam tubuh manusia yang sama. Terserah pada manusia mau lebih menonjolkan siapa dan pada saat yang mana.

Idealnya kedua sisi selalu diupayakan agar dapat seimbang sehingga terbentuk ruang untuk bernafas, berkontemplasi, dan menyusun strategi melanjutkan perjalanan. Jika tidak, alam akan berusaha untuk mencapainya sendiri. Naik ke level yang kebih tinggi (upward spiraling) atau turun ke level rebih rendah (downward spiraling). Jika kecenderungannya menurun terus, maka yang terjadi adalah proses pembusukan menuju kehancuran. Pandemic Corona yg sedang melanda dunia saat ini adalah upaya alam menuju keseimbangan baru.

Tuhan mengaruniai manusia dengan dua engines sangat penting yaitu otak (Yang, fisikal) agar dapat berPIKIR dengan baik, dan hati (Yin, spiritual) agar dapat meRASA. Didalam otakpun ada sisi kanan dan kiri. Kanan untuk memikirkan yang sifatnya abstrak seperti warna, bahasa, kreativitas, intuisi, dsb. Kiri untuk berpikir secara analitik, melakukan kalkulasi, memperhitungkan untung/rugi cost/benefits, dst. Didalam hatipun ada dua sensor yang dapat membantu manusia mengenali sesuatu itu baik atau buruk.

Jika manusia hanya memanfaatkan satu engine, sesungguhnya merugilah dia. Benar menurut pikiran belum tentu pas untuk perasaan. Sebaliknya jika hanya menggunakan perasaan maka manusia menjadi cenderung sensi, baper, dan mudah mabok kepayang. Hanya dirinyalah paling benar, paling pintar. Percaya pada sesuatu hanya menggunakan perasaan dapat membuat manusia menjadi radikal, terbutakan, bahkan jadi extremist.

Ilmu fisika pun ada dua cabang yaitu fisika Newtonian seperti yang kebanyakan kita pelajari dan kenal selama ini. Dan satu lagi adalah fisika Quantum yang belum banyak dikenal masyarakat luas. Tidak banyak disinggung dalam kurikulum SD sampai dengan SMA. Fisika quantum bicara pada level nano.

Menurut ilmu fisika quantum, semua hal di dunia ini saling interconnected. Maka menjadi masuk akal bahwa hal-hal yang tadinya abstrak seperti kekuatan doa itu ada, telepati, hipnotis itu dapat dijelaskan secara ilmiah. 

Tokoh-tokoh dunia seperti Leonardo da Vinci, Srinivasa Ramanujan (penemu perkalian matrix), Shakuntala Devi (lady calculator), orang suci seperti Budha Gautama, dan para Nabi itu mungkin belajarnya (atau mendapat pencerahannya) melalui media quantum. Wallahualam. Yang jelas mereka bukan lulusan S3 dari universitas manapun :)

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah swt !
Amiin 🙏🙏







Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan