RAFALE THE FIGHTER



Saya termasuk yang selalu terpana dengan pesawat-pesawat tempur canggih semisal Zero, Mustang, Tiger, Fighting Falcon, Fulcrum, Sukhoi SU-35, Rafale, etc. Dan jetfighter canggih made in China yaitu Chengdu J-7, Shenyang J-8

Mungkin boys are always boys. Suka mainan, perang-perangan, suka dengan hero yang macho dan maverick, termasuk tokoh fiksi seperti Kenshin Himura, James Bond, dsb. 

Tidak mengherankan jika adik ipar dan anakku sangat fasih dengan berbagai model pesawat tempur terkini, kelebihan kekurangannya walaupun mereka adalah industrial designer dan dokter.

Apakah mesin-mesin perang canggih ini benar-benar akan terpakai dalam perang fisik betulan sebuah negara? Barangkali tidak, kecuali negara tersebut berada di zona perang seperti Timur Tengah, Afghanistan, Africa, Amerika Selatan. Diluar itu lebih berfungsi untuk jaga-jaga, sebagai deterrent, dan permainan catur geo politik.

Konsekuensi ingin punya mainan supermahal harus sediakan duit banyak sekali selain untuk membeli, regular maintenance, upgrade, membangun first level support, juga jaga-jaga untuk hal tidak terduga semisal ketika terbang jatuh sendiri.

Bagi negara yang mampu memproduksinya, bagus lah. Menghidupkan industri pertahanan dalam negeri. Membuka ribuan lapangan pekerjaan. Merangsang inovasi teknologi. Tapi bagi yang belum mampu, ya tough luck lah karena akan tergantung terus pada pemasok.

Yang membuat ketagihan membeli mesin canggih super mahal adalah program ikutannya itu loh antara lain kesempatan meninjau pabrik,  mendapat transfer teknologi walau sangat terbatas. Dan, tentunya betapa manis dan besarnya komisi. 

Analoginya begini. 

Katakanlah anda beli sepeda Colnago C54 harganya 175juta setelah diskon jadi 150juta, diatas itu anda masihdapat bonus tak terduga sepeda lipat baru seharga 15juta. Itu baru belanja sepeda. Bagaimana pula jika anda belanja barang trilyunan Rupiah. 

Bagaimana dengan kemungkinan Indonesia diserang negara lain ataupun menyerang negara lain menggunakan jet tempur. Saya kira boleh kita anggap nol melihat track record puluhan tahun terakhir. Resiko terlalu besar gene hare. 

Lagi pula, dulu George Soros mengguncang dunia bulan Juni-Juli tahun 1998 tanpa perlu jet tempur  satupun. Cukup dengan kekuatan capitalnya dia goyang Korea Selatan, Thailand, dst sampai ke Indonesia yang kata Gubernur BI Sudrajat Djiwandono saat itu pondasi ekonomi kita kokoh. Walhasil kurs Rupiah terbang dari 2,400 menyentuh level ke 17,500 per USD. Negara kalang kabut.

Perang kedepan tidak akan pernah sama lagi. Tak terbayangkan sebelumnya. Unprecedented. Masihkah pemimpin-pemimpin kita berpikir konvensional dalam mempertahankan negri ini? Perlu para pemikir cerdas yang futuristik untuk memikirkan strategi pertahanan dalam periode completely disrupted ini.

Salam sehat,  tetap amalkan prokes !

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan