INTRAPRENEURSHIP
Apa itu Intrapreneur?
Intrapreneur adalah individu yang berupaya mengembangkan ide dan produk baru dalam lingkup bisnis tempat mereka bekerja. Intrapreneur mencakup setiap orang di dalam perusahaan yang menerapkan keterampilan kewirausahaan, visi, dan pemikiran ke depan ke dalam peran yang mereka miliki di perusahaan. Salah satu keuntungan besar menjadi seorang intrapreneur adalah memungkinkan Anda membentuk ide, produk, dan tujuan bisnis baru tanpa mengambil risiko yang timbul saat memulai bisnis baru sebagai wirausaha, seperti tidak ada penghasilan, tim terbatas, kekurangan waktu, masa depan yang tidak dapat diprediksi, dll
Siapa saja Intrapreneur yang menginspirasi saya?
- Ken Kutaragi, pencipta PlayStation di Sony
- Lars dan Jens Eilstrup Rasmussen brothers, pencipta Google Maps
- Paul Buchheit, pencipta Gmail
Seperti yang Anda lihat, wirausahawan adalah individu yang menciptakan dan meluncurkan bisnis, mengambil sebagian besar risiko yang terkait dengan pengembangan bisnis. Namun, mereka juga akan menuai sebagian besar manfaatnya. Intrapreneur yang berhasil membawa bisnisnya ke pasar dianggap sebagai inovator. Orang-orang ini secara teratur akan mengembangkan ide, jasa, barang, dan bisnis baru.
Intrapreneurship adalah sebuah ethos bercirikan tekad / keberanian melakukan upaya-upaya terobosan (innovative, out of the box, seeing the big picture) untuk meningkatkan nilai (tangible-intangible) perusahaan, risk taking, namun bertanggung-jawab.
Ada instinct "intuitif" disana alias belum dapat dijelaskan didepan secara rinci dan gamblang kepada orang lain.
Jiwa intrapreneur bercirikan:
- mampu melihat bird eye view yang biasanya luput dilihat oleh safe-player,
- self-starter, self-motivator dengan rasa percaya diri tinggi,
- pantang menyerah,
- berani mengambil resiko dan mempertanggungjawabkannya
Kebanyakan orang mengira bahwa business acumen adalah bakat bawaan dari lahir. Kabar baiknya ternyata keahlian intrapreneurship dapat dipelajari, dan ketajamannya dapat dilatih terus antara lain melalui pelatihan Business Acumen 101™.
It takes two to tango !
Agar semangat intrapreneurship dapat berkembang baik dalam perusahaan, diperlukan kerjasama dua arah antara atasan dan bawahan.
Bagi mereka yang sudah mencapai level team leader diharapkan darinya dapat bekerja secara self-starter, self-motivated, autonomous, tanpa harus menunggu arahan dari atasan setiap mengawali hari kerja. Dari mereka diharapkan akan lahir inovasi, terobosan, ide-ide baru yang berpotensi meningkatkan kinerja dan perceived value perusahaan.
Betapa repotnya atasan jika bawahan selalu menunggu arahan. Apalagi jika sang atasan juga melakukan hal sama terhadap atasannya lagi. Terbayang betapa akan lamban dan birokratisnya perusahaan seperti itu untuk mampu mengantisipasi dengan baik dinamika pasar yang VUCA (volatile, uncertain, complex, ambiguous) seperti sekarang. Perusahaan sangat memerluikan agility atau kelincahan bergerak cepat berani mengambil posisi pada peluang yang tipis secara tajam dan tepat waktu.
Kebanyakan BUMN/D menghadapi tantangan besar dalam hal minimnya inrapreneur dan budaya intrapreneurship. Terbukti dari 300an BUMN/D, hanya sedikit sekali yang dapat membuktikan kinerja bagus, sehat dan profitable.
Seandainyapun mereka bajak para profesional mahal dari luar perusahaan pun, jumlahnya akan terbatas dan biasanya hanya diperuntukkan posisi-posisi tertentu yang senior. Kapal induk badan usaha sudah terlalu besar untuk dapat diubah oleh beberapa orang saja.
Oleh karenanya, pilihan lebih baik adalah dengan memberdayakan potensi dari dalam (grooming) melalui Talent Management yang baik sedari dini dan perusahaan berinvestasi dalam bentuk pelatihan yang cocok bagi para Talent perusahaan agar meningkat kemampuannya sehingga siap bertanding sejajar dengan para kompetitor swastanya.

Comments
Post a Comment