BUSINESS ACUMEN

Yes business acumen kenapa sangat penting? karena semua berpulang pada common sense. Jika perusahaan mau survive and thrive, musti ada pemasukan (sales revenue) yang lebih besar dari HPP alias COGS, koleksi lancar (cashflow sehat), dan tingkat pertumbuhannya (growth) lebih tinggi dari rata-rata industri tempat perusahaan berkiprah jika tidak ingin kewer lawan para pesaing utamanya.

Regardless latar belakang akademis, para om dan tante di Glodok sejak usia dini sudah mendarah mendaging awareness dan kepiawaiannya mengamalkan basic tennet tsb.

Apakah tennet tsb. hanya perlu dipahami oleh pedagang? tentu saja tidak terbatas pada profesi satu itu saja. Dan, pedagang dalam arti kata luas adalah siapapun yang menjual. Dari menjual produk, jasa, ide, sampai diri. Dagangan bisa tangible bisa non-tangible. Bisa punya sendiri (inventory), bisa titipan (consignment).

Semua orang perlu acumen dalam berusaha. Dari ibu rumah tangga, pelaku usaha UMKM, pegawai BUMN/D, pegawai swasta, aparatur sipil negara / ASN, sampai pekerja mandiri (self employed person).

Banyak orang pandai dan kreatif dalam meciptakan ide-ide misalnya dalam bidang EBT (renewable energy), online trading, riset akar rumput (grass root research), kuliner, sampai birokrasi pemerintahan. Namun semua ide-ide kreatif tersebut harus kinclong "itung-itungan bisnisnya".  Boleh dengan gutfeel, intuisi. Tapi tetap harus masuk akal pendana (investor). Ada protokolnya dalam menarik dana. Tidak bisa hanya tiga carik kertas oret-oretan mirip marketing brosur kemudian bermimpi ada angel investor turun dari kayangan siap taburin uang berkoper-koper. Ini contoh aktual: mimpi disiang bolong banget.

Orang pintar yang terjebak pada kepintarannya sendiri, cenderung mengecil telinganya (less listening) menyipit matanya (less observing), besar kepalanya (self proud), dan lebar mulutnya (love to preach). 

Orang dengan busness acumen bagus akan selalu berusaha untuk menjadikan proyeknya profit center.
Sebaliknya, yg rendah atau bahkan nol (untuk tidak mengatakan minus), secara tidak sadar akan ciptakan proyek-proyek cost center. Contohnya buanyak pada setiap jaman ada.

Pegawai yang tidak punya inisiatif, tidak akan berani ambil posisi dalam setiap uncertain situation. Lebih nyaman tunggu perintah atasan. Bayangkan kalo kultur perusahaan seperti ini sementara para boss lebih banyak habiskan waktu di lapangan golf, resto enak, posting di IG / WA/ Telegram / FB, seperti apa jadinya perusahaan. Terlebih lagi jika pengurus perusahaan bukan pemilik. Boleh puseng barby tuh shareholders. Singkat kata, perusahaan merugi setiap tahun dan guedes magnitudonya.

So, terserah pada para pemimpin yang sedang incharge. No doubt  anda hebat (kalo tidak kan gak akan sampai pada posisi atas), namun ingatlah semua orang cuma diberi dua tangan dan waktu 24jam dalam sehari tidak lebih. Sementara company objectives dan goals perusahaan duduk di pundak anda. Anda bisa berikan bekal pelatihan pada company talents, atau lebih memilih tunjukkan kepiawaian anda pada dunia bahwa anda dapat lakukan segalanya sendiri, termasuk melatih pewagai-pegawai anda.

Untuk membangun sebuah candi seperti Borobudur dibutuhkan ratusan designer dan engineer bekerja fulltime puluhan tahun tanpa henti, let alone berapa ribu banyaknya pekerja. Seorang diri betapapun geniusnya tidak ada yang dapat membangun monumen seperti Borobudur. Sampai kapanpun.

Selamat berhari Minggu ! salam sehat tetap amalkan prokes selalu.

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan