TOTAL COST OF OWNERSHIP (TCO)

oleh Soegeng Priyono, Agile Coach, DevOne Consulting

Universitas Terbuka (UT) dengan jumlah mahasiswa aktif lebih dari 340ribu orang tersebar di seluruh Indonesia plus di 33 negara lain selain membanggakan kita sebagai orang Indonesia, tentu memberikan gambaran akan besarnya tanggungjawab UT menyediakan IT platform yang memadai untuk Learning Management System (LMS), Content Management System (CMS), Student Management System (SMS), dan fungsi-fungsi pokok lainnya. 

Belum lagi dengan kondisi geografi yang demikian luas, beda time zone, mengharuskan UT dapat menyediakan platform pembelajaran yang dapat memfasilitasi komunikasi, koordinasi, kolaborasi antara seluruh pemangku kepentingan di tempat dan waktu yang berbeda-beda secara online, terintegrasi, mendekati realtime sebisa mungkin.

Sebagai sebuah universitas, pilihan paling dekat tentu sebanyak mungkin memanfaatkan Open Source, yang "versi vanilla" nya gratis. Versi vanilla adalah versi dasar yang disediakan oleh provider. Secara tandem akan diperlukan Database Server semisal MySQL yang juga ada versi gratisnya. Diatas itu diperlukan biaya untuk sewa bandwidth, pengadaaan peralatan, datacenter, colocation, dan mungkin jasa cloud computing lainnya, serta biaya operasi, orkestrasi agar semua komponen dapat berfungsi sebagai satu kesatuan system sesuai yang diharapkan. Itu semua disebut sebagai total cost of ownership (TCO).

Secara umum, Total Cost of Ownership (TCO) mencakup antara lain

  1. Biaya HW dan services : server, communication, strorage, backup/restore. colocation,
  2. Biaya SW : NT server / Linux, Office 365, application server, database server, video conference, radio connection, TV connection, 
  3. Biaya pengembangan : inhouse team developer, Scrum Master, Product Owner, Trainer, penyediaan development system (hw, sw, network), 
  4. Biaya rollout dan pemeliharaan : application server serta database server scale ups dan enhancements, dan
  5. Biaya pendukung: operation support 24 x 7 x 365 x SLA, dst. 

Dari seluruh komponen TCO diatas yang bebas biaya sampai level/scope tertentu adalah application server (Moodle) dan database server (MySQL). Tentunya ada keterbatasnnya misalnya dapat mendukung jumlah users sampai level tertentu dengan kinerja cukup bagus. Diatas jumlah itu akan terjadi penurunan kinerja, penurunan efisiensi, atau menimbulkan tambahan kesulitan ketika akan scale up, disamping akan membutuhkan effort lebih untuk me-maintain-nya. 

Sebaiknya semua non-tangible efforts ini dapat di-Rupiah-kan sehingga akan terlihat lebih jelas plus minusnya dibandingkan menyewa application server sudah jadi, siap pakai seperti Crayonpedia.

Hal lain yg berbeda adalah application server yang sudah jadi alias siap pakai, biaya pengembangannya di share oleh seluruh universitas, lembaga pendidikan yang memakainya. Semakin banyak users, biaya menjadi semakin murah. Kontras sekali dengan biaya inhouse application development. 

Sebenarnya biaya pengembangan aplikasi Crayonpedia besar juga, namun karena perusahaan ini memang bergerak pada bisnis pengembangan aplikasi maka hidup matinya memang disitu. Artinya perusahaan siap menanggung kerugian, bertanggung jawab melakukan enhancements terus menerus agar aplikasi selalu memenuhi kebutuhan pengguna masa sekarang dan akan datang. Users cukup mengajukan request for enhancement yang akan dipertimbangkan oleh provider untuk enhancement pada versi-versi selanjutnya.

Benefit lain bagi universitas adalah menjadi lebih banyak perhatian dan waktu untuk melayani para stakeholdernya pada masalah-masalah sesuai tugas pokok dan fungsinya, dan lebih fokus pada upaya pencapaian Rencana Tahunan dan Rencana Jangka Panjangnya masing-masing.

Comments

  1. Dlm hal Moodle, krn masih memanfaatkan teknologi lama, paling tidak, ada 2 kelemahan utama :
    1. Tidak memiliki kemampuan "auto scale-up", shg pemakaian server sangat boros dikatenakan kapasitasnya harus ditentukan/disiapkan sejak awal utk menampung beban sekian (belas) tahun ke depan
    2. Krn masih memanfaatkan teknologi SQL, maka pemakaian "resources" sangat besar; yg berakibat lamanya respons maupun (smp kpd) melampaui kapasitas server alias server/sistem berpeluang "amat sangat lambat, bahkan bisa "down". Perlu diskusi teknis utk hal ini beserta dgn solusinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih pak Indro atas commentnya. Technology memang berkembang sangat pesat. Bahkan dalam dunia IT dikenal bukan hanya progressing namun malah berubah total. Sudah sering terjadi.

      Bertahan dengan technology versi lama mengakibatkan konsekuensi serius dari biaya yang bengkak untuk me-maintain, mengembangkannya, hingga kekhawatiran di phased out oleh providernya dan anda on your own :).

      Dalam dunia IT boleh diasumsikan paling lama 2(dua) tahun masa stabil sebelum hadir technologi yang lebih baru, lebih canggih, lebih cost effective.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan