Belajar dari India
Abad ke 16 India pernah berbentuk kerajaan Islam dengan wilayah luas mencakup Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Bhutan, sampai Myanmar. Rajanya bernama Ibrahim Lodi dengan pusat pemerintahan di Delhi, India Utara.
Kehidupan berjalan normal sampai satu saat Zahirrudin Babur dari etnis Moghul atau Mongol dari daerah Afganishtan-Baluchistan sekarang, yang sama-sma beragama Islam, bermaksud menaklukkannya. Babur adalah keturunan Tamerlane keturunan Genghis Khan. Perang besar tak terhindarkan antara Moslem invaders lawan Moslem petahana. Walaupun pasukan Ibrahim 5 x lebih banyak termasuk ribuan gajah dan kuda, namun pasukan Babur sudah lebih maju dengan teknologi artileri berat.
Singkat cerita, dalam perang Panipat I (lokasi konon sama dengan Padang Kurusetra dalam epik Bharatayudha) pada tanggal 21 April 1526 Babur menang dan mengambil alih pemerintahan. Mulai saat itu dinasti Moghul memerintah India.
Fast forward ke episode yang lebih menarik:
Kerajaan diperintah oleh cucu Babur bernama Akbar anak Humayun yang naik tahta pada usia 13 tahun. Ketika Akbar lahir, para ahli nujum, astrologer kerajaan meramalkan bahwa anak ini kelak akan melakukan hal-hal besar bagi negaranya. Usia yang masih bocah ketika naik tahta membuat Akbar kecil lebih suka bermain daripada belajar di sekolah. Ia tumbuh menjadi anak yang street-smart, out of the box thinker, senang bergaul dengan banyak kalangan termasuk dengan para sufi dan pemuka berbagai agama Islam, Hindu, Kristen, Jainism, Zoroastrianism, dst.
Akbar tumbuh menjadi individu yang sangat menghormati perbedaan. Ia yakin bahwa kebebasan perlu dijamin negara bagi semua agama agar berkembang. Tidak satupun agama boleh mendominasi negara. Ekonomi maju pesat. Kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat meningkat terus sehingga GDP India waktu itu tumbuh menjadi yang tertinggi di dunia. Keywords pemerintahan Akbar adalah Kemanusiaan dan Rasionalitas yang dilaksanakan dikembangkan secara konsisten. Bahkan, konon, lebih konsisten daripada yang dilakukan oleh Queen Elizabeth I dari Inggris. Jaman pencerahan India sudah mulai sejak abad 16 sedangkan Eropa baru pada abad ke 18.
Pada masa Akbar pula lahir agama radikal Sikh yang dibawa oleh Guru Nanak. Akbar juga memberikan kebebasan kepadanya untuk berkembang dan malah diberinya mereka satu kawasan luas dimana disitu didirikan Golden Temple of Amritsar yang masih exist sampai sekarang.
Akbar digantikan oleh Jahangir anaknya. Pada masa ini kemewahan, kenikmatan, extravaganza menjadi gaya hidup kaum elitnya. 80% dari GDP habis dipakai untuk ini. Spending kaum elit India konon sampai melebihi spending kaum aristokrat di negri manapun di Eropa. Kinerja ekonomi kerajaan semakin memburuk dan berlanjut ke pemerintahan Shah Jahan anak Jahangir. Pada masa ini dibangun Taj Mahal, produk Hindu Islam yang sangat monumental itu.
Shah Jehan mempunyai 6 anak, 4 diantaranya lelaki. Yang terkenal adalah si sulung Dara Shukoh sang Putra mahkota yang menganut paham sufi seperti moyangnya: Sultan Akbar. Dan, si bungsu Aurangzeb yang menganut paham garis keras. Keempat bersaudara kandung ini terlibat dalam perang perebutan kekuasaan yang menyedihkan. Pada akhirnya Aurangzeb menjadi pemenang perang setelah terjadi pengkhianatan dari sekutu Dara sendiri. Dara ditangkap bersama anak sulungnya, Prince Salim, dalam kompleks makam Humayun kakek buyutnya. Dara dijatuhi hukuman mati dengan dipenggal kepalanya setelah diarak dipermalukan keliling kota. Sedangkan Salim diberi opium kemudian dicekik sampai meninggal. Kepala Dara diserahkan kepada Aurangzeb yang tidak mau melihatnya kemudian dikirimkan kepada Shah Jahan yang langsung pingsan melihatnya.
Periode setelah ini, kerajaan menjadi terpecah belah dan imperialis Inggris masuk ke India membawa agenda dan pemikirannya sendiri yang akhirnya menuju pada partition of India di tahun 1947.
Learning points: pada akhirnya inti perselisihan bukan tentang keyakinan terhadap agamanya, namun lebih karena alasan hegemoni kekuasaan dan uang. Energi belum menjadi issue crucial pada abad 17 di India dan dunia. Akhirnya kelihatan bahwa Inggris masuk ke India bukan karena ingin membela garis keras, moderat, atau agama tertentu. Namun justru memanfaatkan peta politik yang ada demi mencapai agendanya sendiri.
***

Comments
Post a Comment