Renungan Natal 2022: DEMOKRASI INDONESIA



Membaca salah satu tulisan yang viral berjudul Senjakala Demokrasi, hati ini agak terusik. Karena bisa misleading bagi mereka yang terbiasa hanya membaca judul, tanpa mencerna isi. Apalagi berpikir kritis terhadap isi tulisan yang disampaikan.

Indonesia sebenarnya mengadopsi paham demokrasi sudah sejak lama sekali. Bahkan Pemilu tahun 1955 dikenang sebagai sebuah pemilu yang sangat demokratis. Pemenangnya partai Masyumi. Itu masih jaman Orde Lama loh. Bung Karno dengan alasan situasi kondisi kesiapan bangsa kita waktu itu mencetuskan ide Demokrasi Terpimpin, yang tidak semua aliran politik dapat menerima. Masuk akal barangkali jika sekarang dipikir kembali kenapa dulu beliau usulkan itu.

Tahun 1998, Pak Harto turun diteruskan Pak Habibie sebagai presiden. Kejadian-kejadian selanjutnya tidak perlu ditulis lagi karena semua juga masih pada ingat. Terjadi in our lifetime !

Kenyataan saat ini Indonesia menganut paham demokrasi liberal. Lebih liberal dari pada idolanya sendiri: Amerika (USA). Misalnya jumlah parpolnya disini ada 27 , disana cukup Demokrat dan Republik. Diluar itu cuma partai gurem dan praktis tidak terdengar. Mungkin 1-2 saja.

Di Amerika, dengan jumlah partai praktis hanya 2, peran oligarki dalam politik sangat besar. Adu kuat kapital untuk memenangi pengaruh voters. Jelas kapital sangat besar diperlukan. Money politik tak terhindarkan dapat terjadi.

Di Indonesia, parpol bagaikan amoeba. Jika berbeda pendapat, anggota akan nyempal bikin partai baru. Bahkan, banyak juga yang merasa punya massa beramai-ramai mencoba bikin partai baru.  Segala upaya rekayasa menjadi halal agar dapat membentuk partai baru. Worth it to gamble. 

Kalo anda bertanya apakah pendiri benar-benar ingin punya karena alasan ideologi?? Saya kok menduga tidak. Dugaan saya, bagi partai yang lolos kualifikasi akan mendapat alokasi dana bantuan banyak dari pemerintah. Dari duit pajak. Kalo tidak, apakah iya pendiri dan pengurus partai akan memotong tabungan pribadinya sendiri untuk meragati parpolnya yang masih muda. Partai sekelas PSI pun yang masih baru, relatif kecil, pengurusnya muda-muda dapat hidup nyaman sebagaimana layaknya profesional swasta makmur.

Penerapan demokrasi liberal a la Amerika membuat efek yang lebih destruktif daripada disana karena 5 (lima) alasan berikut ini:
  1. besar sekali segmen voters yang tidak tahu cara memilih,
  2. kualitas hidup rakyat sebagian besar masih struggling dengan pencukupan kebutuhan hari-hari sehingga sedikit iming-iming materi saja akan langsung ditangkap...wani piro... tidak ambil pusing dengan implikasi menengah panjang yang mungkin akan melukai mereka juga dikemudian hari,
  3. tingkat kemampuan berpikir kritis menggunakan logika sebagian besar voters masih rendah, mudah dipancing dengan politik identitas (utamanya agama, akherat, surga),
  4. rendahnya kemampuan literal (membaca) sebagian besar msayarakat selain baca WA, Telegram, TikTok, dan semacamnya, sehingga tidak tahu hal-hal lebih esensi lebih bagus ternyata ada tuh di bagian dunia lain, namun tidak ada yang memviralkan, dan
  5. mental preman (gampang menggunakan pendekatan kekerasan, ancaman, intimidasi) masih diterapkan oleh sebagian pemimpinnya yang sedang menjabat.
Lantas kedepan siapa yang dapat mengubahnya?

Perlu dipikirkan bersama, karena legislatif hasil sistem demokrasi model ini apakah akan tergerak untuk melakukan perbaikan terhadap sistem yang ada sekarang.

Presiden dan kabinet, seandainyapun, terpilih dari kalangan non-politik seperti Pak Jokowi akan mampu merubahnya dengan melewati jegalan-jegalan legislatif?

Yudikatifpun tidak mudah melepaskan diri dari politik.

Dengan demikian memang judul Senjakala Demokrasi (liberal a la Amerika namun lebih parah) menjadi urgent dipikirkan, diubah menjadi lebih baik.

Bentuknya mungkin demokrasi Pancasila yang perlu didefinisikan.
Bukan demokrasi terpimpin, karena menggantungkan pada individu pemimpin.
Penggabungan paham Nasakom (nasionalis, sosialis, komunis) ?? wah jangan omong yang kayak gitu. Sangat sensisitf membangkitkan sentimen dan luka lama.

Selamat merayakan Natal 2022 bagi teman-teman dan sahabat yang merayakannya semoga damai, sejahtera menyertai perjalanan bangsa kita. 

Tidak cepat marah, tidak mudah ngamuk, tidak jeri berbeda pendapat.

Salam Merah Putih berkibar selamanya !

SP 25Des2022

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan