DIPONEGORO TO VAN DEN BOSCH



Perang Jawa selama 5 tahun berakhir pada tahun 1830 dengan kekalahan pihak Pangeran Diponegoro. Korban jiwa  mencapai 200 ribuan. Di pihak Belanda tewas 8 ribuan tentara plus 7 ribuan serdadu pribumi. Pemerintah Belanda menghabiskan minimal 20 juta Gulden. Biaya perang termahal yang pernah dilakukan Belanda waktu itu. Akhir perang menegaskan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa. Raja dan Bupati harus tunduk pada Belanda. 

Dampak positif perang ini adalah munculnya semangat persatuan dan kesatuan dalam melawan kolonialisme dan imperialisme. Pangeran Diponegoro berjuang melawan kolonialis Belanda bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menegakkan kemerdekaan, memperjuangkan harkat martabat masyarakatnya dan keadilan.

Johannes van den Bosch menjabat Gubernur Jenderal Belanda mulai 1830-1834, pasca Perang Jawa. Dia memberlakukan Cultuurstelsel atau kita kenal sebagai Sistem Tanam Paksa, yang secara ringkas dapat dijelaskan sebagai keharusan menanam komoditas expor tertentu diatas tanah rakyat, dengan biaya murah meriah tapi mendatangkan revenue super besar bagi Belanda. Dengan kata lain upaya meraih cuan sebanyak-banyaknya bagi Belanda atas pengorbanan rakyat koloni.

Sistem tanam paksa pertama diperkenalkan di Jawa kemudian dikembangkan di daerah-daerah lain seperti Lampung, Palembang, Sumatra Barat, sampai Minahasa. Sistem ini diterapkan di Sumatra Barat sejak tahun 1847, saat itu penduduk yang telah lama menanam kopi secara bebas dipaksa menyerahkan hasilnya pada pemerintah kolonial dengan harga ditentukan sepihak, dan tentu saja murah.

Mengutip pernyataan Prof Dr Peter Carey : "The destruction of Java’s Old Order and the beginning of the period of “high colonial” rule (Netherlands Indies) which impoverished native society and in the early period (Cultivation System, 1830-70) created 882 million guilders of profit for the Dutch with not a cent being paid for the education and welfare of the Pribumi/ inlanders. That has led to mental, spiritual and material impoverishment and the colonization of Indonesian  minds with the result which is so evident today - everywhere one turns there is fecklessness and corruption

Pelajaran pokok yang dapat kita petik bagi generasi penerus Indonesia adalah sbb:

  • Akibat dari Perang Suksesi Jawa ke I, II, dan III dimana maskapai dagang VOC mendapatkan posisi diatas angin akibat permainan politiknya dalam ketiga perang tersebut, membuat pemerintah Hindia Belanda yang mengambil alih peran VOC sejak 1 Jan 1800 menjadi lebih dominan sebagai penguasa de facto menjelang Perang Diponegoro meletus.
  • Dengan posisi underdog, ibarat untuk berdiri menjadi tuan dirumah sendiri saja belum tegak, tentu bangsa kita masih nol pengalaman dalam berdagang komoditas di bursa internasional. Dilain pihak Belanda sudah paham betul, komoditas apa saja yang bagus untuk dijual dibursa internasional.
  • Sebagai kolonial, Belanda memanfaatkan kekuasaannya untuk memaksakan kehendak / mengeksploitasi koloninya semaksimal mungkin tanpa rasa kepedulian dan keadilan yang pantas
Semoga kita semakin menyadari betapa besarnya sumbangsih para pemuda pendiri NKRI dibawah pimpinan Bung Karno - Bung Hatta. Pintu gerbang kemerdekaan adalah pintu emas bagi bangsa ini untuk belajar berdiri tegak menata-kelola negeri sendiri. Banyak sekali yang harus dipelajari, dikerjakan untuk mencapai cita-cita membangun negara yang sejahtera, adil, dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan