Indonesia dan Elon Musk
Dua kali Indonesia kecewa berat dengan figur ikonik Elon Musk yang tidak jadi masuk berinvestasi kemari padahal upaya sepertinya sudah allout dilakukan. Tahun lalu Presiden sebagai kepala negara bahkan sampai turun gelanggang sendiri untuk berkunjung ke markas besarnya bersama Menkorinvest dan team lobbynya. Wacana dunia maya disini waktu itu sudah terwarnai optimisme bahwa Elon Musk "pasti" masuk.
Yang terjadi kemudian setelah kunjungan tersebut pada Desember 2022 Tesla memutuskan membuka kantor keduanya di Asia Tenggara di Bangkok, setelah Singapore. Keduanya bukan pabrik melainkan kantor pemasaran dan regional HQ.
Sedangkan pabrik EVnya ada di Shanghai. Pabrik pertama dibangun tahun 2019 (pabrik pertama mereka di luar AS) dengan kapasitas produksi 22 ribu unit mobil/pekan. Machinery dan teknologi tentu locally accessible. Tidak perlu mendatangkan dari US kecuali teknologi tertentu. Jika pabrik dibangun di negara lain seperti Thailand, Vietnam, atau Indonesia tentu akan lebih banyak komponen pabrik harus diimpor. Selain itu engineer yang paham dan sanggup mengoperasikannya, kalo machinery dibuat di China tentu lebih mudah mencarinya disana. Memangkas waktu dan budget untuk training. Belum lagi dengan kemampuan China dalam bidang R&D yang vital diperlukan bagi perusahaan dengan teknologi tinggi.
Yang kedua berita tanggal 4 April 2023 bahwa Elon Musk memtuskan akan membangun pabrik baterai mobil listrik di Shanghai juga dengan kapasitas produksi 10 ribu unit Megapack (daya besar) per tahun. Pabrik yang akan dibangun itu, mendahului wacana soal program serupa di Indonesia.
Mari kita selami sedikit kenapa hal itu terjadi.
Sebagai regional HQ, pilihan pertama bagi perusahaan multinasional tentu Singapore dengan segala kesiapannya (infrastruktur, regulasi, image, kenyamanan, kemudahan). Sulit bagi kota-kota besar lain di kawasan untuk menandinginya.
Sebagai kantor pemasaran, kenapa kok Bangkok bukan Jakarta. Padahal dari ukuran pasar dalam negeri dan daya beli mustinya Indonesia lebih besar daripada Thailand. Jadi teringat pada Volvo yg sudah lama memilih membangun pabriknya disana juga.
Dari keahlian sales dan marketing, mustinya Indonesia tidak kalah dari Thailand. Dari segi kemampuan bahasa Ingrispun, orang Indonesia bagus bagus.
Kalau secara teknis orang Indonesia jago-jago. Dari segi disiplin ketenaga-kerjaan (hubungan industrial) mungkin kita dipandang lebih sulit diatur relatif dibanding pekerja di negara-negara pesaing. Hal mana akan rentan mempengaruhi jalannya sebuah pabrik. Ditambah adanya serikat pekerja multiple yang bisa bikin tambah pusing manajemen. Ini semua dapat menjadi penghalang serius bagi kelangsungan hidup sebuah pabrik.
Dari sisi kemudahan perijinan dan insentif perpajakan, dapat diduga pemerintah pasti siapkan paket sangat menarik.
Dari sisi bahan baku batere (Nickel), menurut informasi pemerintah, kita punya cadangan tambang terbesar di dunia antara lain di Morowali. Walaupun ada yang berpendapat bahwa Nickel nya dari jenis yang bukan ideal untuk bahan batere mobil listrik. Namun untuk masalah ini tentu ada teknologi maupun alternatif solusinya. Perkembangan riset teknologi demikian pesat. Kalau diwaktu lalu dipercaya Nickel adalah bahan paling bagus untuk batere EV, hasil riset lebih baru membuktikan Lithium-ion, Graphite, Fluoride, Sodium juga sangat bagus. Kedepan bisa jadi akan bertambah. Semua ini menuntut lebih dari sekedar ketersediaan bahan dasar mentah, namun perlu dipunyai kemampuan riset, teknologi, tenaga engineer terampil siap pakai dalam jumlah yang mencukupi secara lokal. Jika harus didatangkan dari negara lain tentu implikasi biayanya akan menjadi mahal.
Keberhasilan menarik FDI memang tidak hanya cukup dengan menyusun proposal bisnis yang bagus, lobi-lobi tingkat atas, dan menjanjikan insentif regulasi dan perpajakan. Tapi lebih dari itu diperlukan kesiapan peraturan, infrastruktur (fisk non-fisik), SDM yang terampil berdisiplin serta patuh pada aturan perusahaan sehingga tingkat produktivitas tertentu dapat terjamin.
Setiap negara pesaing tentu tawarkan insentif yang kompetitif. Artinya Indonesia tidak sendirian. Semua bergerak dengan arah yang sama. Malah kalo tidak lihai, kita akan cenderung jual murah. Padahal tidak selalu jual murah itu menarik.
Singapore sebagai contoh tidak akan memakai jurus jual murah. Justru mereka jual Value yang high-quality dengan harga premium.
Sebelum bisa terbang tinggi dalam berkompetisi, urusan pokok memang harus dibereskan dulu. Dan ini butuh kerja keras. Semoga pemerintah incumbent dapat melakukan pembenahan-pembenahan esensi yang akan dilanjutkan oleh pemerintah baru 2024 nanti.
Dari sisi personal preference, konon, Elon Musk tidak menyukai feodalisme. Yang mana ini masih terasa sekali dipraktekkan (mungkin unconsciously) oleh para pemimpin kita. Bisa jadi ini mempengaruhi subyektifitas pengambilan keputusannya :)
SP 12Apr2023

Comments
Post a Comment