POLITIK BOLA
Mumpung masih dalam bulan-bulan politik, tulisan ini dibuat agar hangat, syukur menarik dan tidak lupa.
Permainan politik yang sedang kita alami dan saksikan ini mirip dengan permainan sepakbola.
Politisi adalah pemain, Wasit beserta penjaga garis KPU nya. Supporter adalah buzzers. Bisa sangat fanatik dan banyak yang profesional alias bayaran. FIFA nya adalah Mahkamah Konsitusi yang terkenal itu. Pelatih dan para asisten adalah konsultan politik beserta tim surveynya. Penonton, last but not least, adalah voters nya. Ada pasar taruhannya juga. Ada yang pasang dua kaki juga. Yah namanya juga permainan.
Suara rakyat penonton adalah penentu akhir yang sangat diperebutkan dan dikasih istilah keren dalam bahasa Latin: "Vox Populi Vox Dei" yang maksudnya Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Luar biasa bukan.
Anehnya suara Tuhan bisa diperjual belikan melalui Pasar Wanipiro, Serangan Fajar, atau Nasbung+Kepeng.
Penonton juga ada yang sangat fanatik. Banyak yang baperan. Tim kesayangan adalah da best. Siapapun yang mencela artinya nantang brantem. Misalnya Jakmania tawuran lawan pendukung Persib. Bonek Persebaya lawan Singoedan Arema. Masih banyak contoh lainnya lokal maupun internasional. Amit-amit jabang bayi kalo tragedi seperti Kanjuruhan sampai terjadi dalam pertandingan politik kali ini. Makanya Mikir kata Cak Lontong.
Penggemar David Bekham bisa sangat fanatik. Bisa berbalik 180 derajat ketika dia bikin kesalahan fatal. Langsung dihujat habiss dan kalo perlu diludahi. Padahal kesalahannya "hanya" dianggap menyebabkan Tim Inggris kalah lawan Argentina dalam satu babak World Cup. Samasekali tIdak ada kaitannya dengan rekayasa anak-anaknya agar masuk Timnas Inggris. Lah wong masih kecil-kecil begitu. Nendang juga belum lempeng ;))
Permainan sepakbola adalah tontonan. Hiburan. Selesai setelah itu pulang. Berita TV dan sosmed pelan-pelan mereda. Kembali ke keseharian lagi.
Beda dengan permainan politik.
Selesai pertandingan hanyalah awal dari pembuktian janji-janji muluk selama kampanye. Misalnya kredit nol persen, kredit khusus millenial, naik pangkat serentak, kartu ajaib, dsb dst. Seolah-olah pendahulunya belum mikir sampai kesitu. Lah pake duit siapa? tentu duit pajak baik dari yang kalah maupun menang.
Teorinya permainan politik adalah untuk adu Visi, progam kerja yang akan dilakukan dalam 5 tahun kedepan. Demi pembangunan, memajukan bangsa dan negara dalam segala bidang termasuk yang paling penting adalah pembangunan SDMnya.
Kenyataannya banyak anggota masyarakat masih pada tahap belum paham bedanya permainan politik dengan permainan sepakbola. Dua-duanya masih dianggap podowae. Tontonan. Hiburan.
Beda banget dengan negarawan (dan tentunya juga politisi) kelasnya Lee Kuan Yew. Apa yang dia kampanyekan benar-benar demi kemajuan Singapura. Kita bisa lihat hasilnya sampai sekarang.
Menurut anda bagaimana?
😏

Comments
Post a Comment