PUSAT JANTUNG NASIONAL
Repost Artikel on Nov 23, 2018
REPOST:
Kita, bangsa Indonesia, harus bangga mempunyai Pusat Jantung Nasional (PJN) atau Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita. Bukanlah sebuah exaggeration jika dikatakan bahwa PJN ini adalah salah satu pusat jantung terbaik di Asia. Unggul dalam kualitas tenaga medis, fasilitas medis, dan yang sangat penting adalah kontribusinya bagi negara kita cukup signifikan. Sebagai contoh dengan jumlah penduduk Indonesia 260 juta jiwa, ada prevalensi 44.000 bayi lahir hidup dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) setiap tahun. Dari jumlah tersebut minimal 25.000 bayi diantaranya perlu intervensi medis pada tahun pertama masa hidupnya. Saat ini baru 2.000 kasus (atau 8%) saja yang dapat ditangani Indonesia. Dan, lebih dari separohnya itu dilaksanakan di PJN. Biaya operasi sebagian besar ditanggung oleh BPJS. Thanks to BPJS dan PJN !
Tenaga medis dengan pendidikan dan pelatihan terbaik ada disana. Jumlah dan kualitas tenaga medis, dan kapasitas fasilitas memang perlu terus ditingkatkan agar dapat meningkatkan coverage layanan bagi masyarakat yang memerlukan.
PJN berbentuk Badan Layanan Umum. Dulunya anggaran berasal dari APBN 100%. Namun sejak tahun 2018 ini hanya gaji pegawai saja (sekitar 1.200 orang) yang masih ditanggung APBN sampai 2019. Setelah itu mungkin PJN diharapkan mampu mandiri secara penuh :). Model yang sama juga sedang diterapkan di RS Dr Karyadi Semarang.
Sebagai BLU ada target yang dibebankan oleh kementerian kepada PJN. Disisi lain PJN membutuhkan dukungan kapasitas yang memadai (medis dan non-medis) agar dapat memenuhi target yang dibebankan oleh pemegang saham. Tantangan utama Direksi tentunya bagaimana meningkatkan coverage dan layanan agar optimal dengan memanfaatkan kapasitas yang tersedia. Biasanya target lebih tinggi dari kapasitas sehingga untuk menutup diskrepansinya diperlukan kecanggihan, kreativitas, dan keberanian Direksi membuat terobosan atau inovasi, antara lain melalui program fund raising dari para filantropis dan melalui financial engineering modern dalam koridor peraturan, standar akuntansi yang berlaku bagi sebuah BLU.
BLU memang nirlaba. Namun demikian wajib hukumnya untuk mampu terus meningkatkan penerimaan, menjaga kesehatan arus kas, sehingga selalu ada sisa pendapatan yang dapat digunakan untuk pengembangan PJN lebih lanjut.
Diperlukan Rencana Strategi Bisnis (RSB) dan Transformasi 5 tahunan yang dijabarkan menjadi program tahunan. Singkat kata diperlukan Business Plan. BLU bukan seperti swasta yang bebas menentukan target demi memaksimalkan Return bagi Shareholder. BLU mengemban misi sosial.
Dalam era Disrupsi ini yang dipicu perkembangan teknologi informasi demikian pesat, segala sesuatu berubah dengan cepat sehingga semua planning perlu ditinjau dari waktu ke waktu. Namun demikian RSB lima tahunan dan tahunan tetap perlu dipunyai guna menjamin agar perusahaan bergerak kearah yang benar.
Tanpa terucap, PJN sudah pasti dijadikan acuan atau role model oleh pemerintah dalam mengelola rumah sakit BLU, rumah sakit daerah. Dan, menjadi benchmark bagi industri perumahsakitan di Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu akan menjadi satu kebanggaan tersendiri bagi siapa saja yang dapat ikut memberikan kontribusi demi kemajuan PJN kita!

Comments
Post a Comment