DWIFUNGSI ABRI (updated)

Dwifungsi adalah sebuah idiom yang maksudnya berfungsi ganda. ABRI sekarang bernama TNI. Angkatan Bersenjatanya Indonesia. Dwifungsi maksudnya ABRI berfungsi sebagai dinamisator (agent of change??) dan stabilisator (penjaga kestabilan) sehubungan dengan pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

Kenapa Pak Nas (Jendral AH Nasution) sampai pada pemikiran tersebut dan diterima oleh Pak Harto selaku kepala negara waktu itu, karena situasi kondisi pasca G30S 1965 memang memaksa setiap pemimpin bangsa untuk berpikir keras bagaimana caranya agar Indonesia dapat segera bangkit dan membangun diri dengan cukup tenang secara politik dan keamanan dulu. Itu konteksnya.

Periode administrasi Orde Baru pada dua periode 5 tahun pertama dapat dikatakan sangat berhasil. Negara punya Garis Besar Haluan Negara (GBHN), Repelita, Pelita, dan situasi keamanan relatif stabil. Ada team ekonomi khusus yang terkenal dengan sebutan Mafia Berkeley dibawah pimpinan Prof Widjojo Nitisastro. Ada Komkamtibnas dengan jaringan Babinsanya yang mencakup seluruh pelosok Indonesia. Pertanian maju sampai mampu swasembada pangan yg diakui FAO (bukan sekadar polesan citra). Industri strategis dibangun melalui BUMNIS. Korupsi masih ada sejak jaman-jaman sebelumnya namun cukup terlokasi pada ceruk tertentu.

Periode itu Indonesia punya menteri-menteri yang hi-calibre dan sangat cakap dalam bidangnya yang tentunya (kalo anda masuk generasi Boomer) masih pada ingat. Kita pernah punya menteri yang sangat capable namun sederhana sekali gaya hidupnya seperti  Ir Sutami, Billy Judono. Bahkan sampai urusan Keluarga Berencana-pun, Indonesia sangat berhasil dibawah Kepala BKKBN Dr Haryono Suyono. Tentu teknokrat yang satu ini banyak menginspirasi kita-kita anak SMA jaman itu: BJ Habibie.

Kembali pada Dwifungsi, menurut anda apakah Pak Nas akan tetap setuju jika beliau masih ada sekarang ini? Saya menduga beliau akan punya pandangan berbeda melihat perkembangan dunia sekarang. Tantangan pembangunan bangsa dan negara tidak sama lagi dengan tahun 60an, 70an. 

Setiap profesi ada jalannya, tuntutannya, ilmunya, pengalamannya misalnya dokter, pengacara, ahli pajak, insinyur dst. Begitu juga dengan yang memilih jalur tentara dan polisi. Masing-masing ada tempatnya dan peruntukannya. Tanpa spesialisasi, pembangunan bangsa dan negara tidak akan dapat berjalan baik dalam memakmurkan seluruh bangsa secara lebih berkeadilan. "Gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, subur kang sarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku".

Bagi yang kesulitan memahami ungkapan tersebut diatas, sekarang ada Copilot, Gemini, ChartGPT, DeepSeek,  Google Translate untuk memahaminya. Silahkan dipilih mana yang disuka.

Jika sekarang ada wacana dwifungsi harus ditingkatkan bahkan kalo perlu sampai multifungsi, maka ini ibarat mimpi bahwa ikan yang jago berenang diharapkan dapat memanjat pohon kelapa. Atau monyet yang pandai memanjat utuk dapat berenang seperti ikan lumba-lumba. 

Jangan sampai ini justru menjadi penghambat bagi pembangunan bangsa dan negara seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini pada awalnya.

Makan cukup 3 piring sehari. Bahkan jika anda lansia, sebaiknya sudah stop makan malam. Nafsu makan tidak sama dengan ketika muda dulu. Sudah banyak tantangan kesehatan entah gula, kolesterol, penyakit degenerative dst. Yang penting jaga diri agar tetap sehat, berkecukupan dan bahagia menemani cucu-cucu generasi Alpha dan Beta. Berkelebihan banyak malah menimbulkan banyak pikiran bukan.

Semoga generasi yang sekarang sedang naik daun dapat menyadari dan berpikir agak panjang. Eh siapa tahu anak cucumu nanti tidak semuanya menjadi pejabat. Menjadi apapun tidak masalah asal jadi orang baik, dapat berkiprah sesuai panggilan jiwa, berkecukupan, sehat dan bahagia. 

Tidak semua anggota TNI dan polisi ingin menjadi oligarki. Bahkan dugaan saya lebih dari 90% ingin hidup cukup dan sehat sehingga harapannya dapat tenang dan bahagia bersama keluarganya. Tantangan tentu akan selalu ada. Itulah yang membuat hidup justru bergairah kan. Tuhan tidak memberikan tantangan pada seseorang yang tidak mampu dia cari solusinya. 

Kalau ekosistem bermasyarakat, berbangsa, bernegara berlandaskan pada merit, etika, budi pekerti, hukum yg tegak dan adil, sepertinya Indonesia akan menjadi negara kuat sejahtera maju bagi rakyatnya.

Sekarang ini Indonesia sedang jatuh pada situasi dimana masyarakat rendah sekali kepercayaannya terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, efektivitas efisiensi birokrasi, dan penegakan hukum yang tegas dan adil khususnya pada kasus-kasus mega korupsi yang ketahuan dari waktu ke waktu.

Terimakasih telah membaca.

Salam

SP 18Mar2025


Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan