CAUDEBEC en CAUX
Senin 7 April 2025, Monarch Countess merapat ke sebuah desa di tepi sungai La Seine dengan populasi sekitar 2300 inhabitants. Namanya Caudebec yang dijuluki sebagai "The Pearl of the Seine Valley". Tempat ini menawarkan pemandangan dan lingkungan yang indah untuk berjalan-jalan sepanjang riverfront. Pepohonan, rumah-rumah batu tua, jalanan yang bersih dan bunga warna-warni bermekaran menyambut sepanjang jalan.
Pada abad ke 16 tempat ini dihuni oleh komunitas Protestan cukup besar di Perancis. Terkenal dengan hasil produksi gloves lembut dari kulit kambing serta topi berhias feather yang menjadi fashionable di istana Perancis kala itu. Di tempat ini ada Notre Dame Cathedral dan Maison de Templiers (the Templar House) - bangunan abad ke 12 dengan facades dan architecture yang impressive. Sebagai perbandingan jaman itu di Nusantara kira-kira era Singosari.
Siang menjelang sore yang cerah dan indah itu, terlihat sepasang kekasih muda saling bercumbu. Yang wanita Caucasian yang laki seperti Middle-Eastern. Kami iseng mengganggunya dengan meminta tolong untuk difoto. Mereka ketawa. Menjawab dengan senang hati.
Selain kapal kami, juga merapat persis dibelakangnya dua kapal lain yang satunya bernama Amandante. Amandante terlihat sedikit lebih mewah. Berbendera Jerman.
Tak lama kami sampai didepan kantor Pemda setempat. Ada taman dan bangku panjang dua buah.
Salah satunya diduduki oleh dua anak muda dengan kulit sawo matang. Setelah dekat kami tegur dari Indonesia ya .. dengan agak surprise mereka serentak jawab "bapak ibu dari Indonesia juga?"
Kami berempat ketawa.
Rupanya dua anak muda itu bekerja di kapal Amandante sebagai crew di bagian dapur. Masak dan bersih-bersih. Jadwal kerja 6 minggu di kapal, 6 minggu di darat dan kudu pulang kerumah. Anak muda itu bujangan lulusan SMK Pariwisata di Semarang, dan satu lagi dari Medan. Setiap turun kapal mereka pulang kampung membawa uang.
Gaji pokok mereka per bulan 2500 Euro. Cukup banyak. Walaupun itu level UMR disana. Diatas itu mereka masih mendapatkan uang tip dari wisatawan yang jumlahnya lebih besar dari gajinya sebulan.
Sebagai lulusan SMK di daerah, mereka lugu bersahaja. Tidak pernah tinggal di kota sebesar Jakarta. Bahasa Inggris pas-pasan tapi mereka senang disebut You Are my Angels oleh atasannya, karena selalu nurut perintah dan kerja tekun. Bos senang.
Kami semangati mereka agar terus kerja dengan baik, buka wawasan lebih luas, perbanyak teman dari berbagai bangsa .. sapatau akan membawa manfaat kemudian hari.
Orang-tuanya di daerah bukan petinggi dengan posisi di tentara, polisi, pejabat, atau politisi maka bersyukurlah bisa menabung 5000 Euro setiap bulan. Di Indonesia tidak mudah mencari pekerjaan tanpa harus menjadi preman untuk mendapatkan income sebesar itu.
Kami berpesan jangan lupa sisihkan sebagian uang untuk mengembangkan diri misalnya belajar jadi cook lebih baik, barista, bahasa asing, atau ketrampilan yang lain.
Akhirnya kamipun harus berpisah karena Monarch Countess akan melanjutkan perjalanan.
Diciumnya tanganku oleh anak muda itu sambil mengucap terima kasih.
Good luck nak !
Tak lama kami sampai didepan kantor Pemda setempat. Ada taman dan bangku panjang dua buah.
Salah satunya diduduki oleh dua anak muda dengan kulit sawo matang. Setelah dekat kami tegur dari Indonesia ya .. dengan agak surprise mereka serentak jawab "bapak ibu dari Indonesia juga?"
Kami berempat ketawa.
Rupanya dua anak muda itu bekerja di kapal Amandante sebagai crew di bagian dapur. Masak dan bersih-bersih. Jadwal kerja 6 minggu di kapal, 6 minggu di darat dan kudu pulang kerumah. Anak muda itu bujangan lulusan SMK Pariwisata di Semarang, dan satu lagi dari Medan. Setiap turun kapal mereka pulang kampung membawa uang.
Gaji pokok mereka per bulan 2500 Euro. Cukup banyak. Walaupun itu level UMR disana. Diatas itu mereka masih mendapatkan uang tip dari wisatawan yang jumlahnya lebih besar dari gajinya sebulan.
Sebagai lulusan SMK di daerah, mereka lugu bersahaja. Tidak pernah tinggal di kota sebesar Jakarta. Bahasa Inggris pas-pasan tapi mereka senang disebut You Are my Angels oleh atasannya, karena selalu nurut perintah dan kerja tekun. Bos senang.
Kami semangati mereka agar terus kerja dengan baik, buka wawasan lebih luas, perbanyak teman dari berbagai bangsa .. sapatau akan membawa manfaat kemudian hari.
Orang-tuanya di daerah bukan petinggi dengan posisi di tentara, polisi, pejabat, atau politisi maka bersyukurlah bisa menabung 5000 Euro setiap bulan. Di Indonesia tidak mudah mencari pekerjaan tanpa harus menjadi preman untuk mendapatkan income sebesar itu.
Kami berpesan jangan lupa sisihkan sebagian uang untuk mengembangkan diri misalnya belajar jadi cook lebih baik, barista, bahasa asing, atau ketrampilan yang lain.
Akhirnya kamipun harus berpisah karena Monarch Countess akan melanjutkan perjalanan.
Diciumnya tanganku oleh anak muda itu sambil mengucap terima kasih.
Good luck nak !

Comments
Post a Comment