DIALOG VIRTUAL DENGAN VINCENT VAN GOGH
Jumat 4 April 2025, MS Monarch Countess disembark dari Port de Javel Bas, Paris, sore hari. Pukul 08:30am Sabtu 5 April 2025 sudah merapat di Conflans centre.
Conflans-Sainte-Honorine terletak di utara Yvelines, di tepi Val-d'Oise, sekitar 12 km dari pusat Saint-Germain-en-Laye dan sekitar 20 km di barat laut Paris. Kota ini berkembang di sepanjang tepi Sungai Seine, di tepi kanan sungai pada pertemuannya dengan Sungai Oise. Kota ini sekarang meluas hingga ke tepi kiri. Dikenal sebagai ibu kota tongkang Sungai Seine karena banyaknya kapal yang terdaftar di daerah tersebut.
Tak lama setelah merapat, kami turun ke darat untuk naik bus bersama-sama peserta lain mengunjungi desa kecil dimana dulu Vincent van Gogh tinggal dan berkarya. Vincent mulai belajar melukis di usia 27tahun dan berpulang pada usia 37tahun meninggalkan karya sekitar 800 lukisan dan sketsa. Dari sekian banyak karya, yang berhasil dia jual untuk menyambung hidup hanyalah satu buah saja. Hidupnya jauh dari kecukupan. Bahkan Vincent mudapun sempat cintanya bertepuk sebelah tangan. Silahkan bayangkan kisah hidup seorang anak dari keluarga kaya Belanda ini.
Vincent van Gogh tinggal di Auvers-sur-Oise, sebuah desa yang indah di Prancis, selama bulan-bulan terakhir hidupnya pada tahun 1890. Ia pindah ke sana setelah menghabiskan waktu di Saint-Rémy-de-Provence, tempat ia menjalani perawatan untuk kesehatan mentalnya.
Auvers-sur-Oise adalah surga bagi para seniman, dan Van Gogh menemukan inspirasi dalam lanskapnya, melukis lebih dari 70 karya hanya dalam 70 hari. Ia tinggal di Auberge Ravoux, sebuah penginapan kecil di desa tersebut, dan dirawat oleh Dr. Paul Gachet, seorang dokter dan penggemar seni.
Berikut ini dialog virtual saya dengan Sang Seniman :
Q: "Saya baru mengunjungi makam Anda di Auvers-sur-Oise. Apa yang membuat Anda sangat menyukai tempat ini semasa hidup?"
A: "Terima kasih telah mengunjungi makamku dan Theo persis disamping. Ini lambang ikatan kami yang tidak bisa dipatahkan"
"Auvers-sur-Oise merupakan tempat yang memberikan penghiburan sekaligus energi kreatif bagiku. Pedesaan yang tenteram, ladang gandum keemasan, dan jalan-jalan desa yang menawan memberikan rasa damai setelah perjuanganku. Meskipun ada pergolakan batin, aku melukis dengan intensitas yang luar biasa, menyelesaikan lebih dari 70 karya dalam 70 hari"
"Aku menemukan penghiburan dalam lanskapnya yang tenang, pedesaan yang menawan, dan komunitas seni yang tumbuh subur disini. Desa ini, dengan ladang gandumnya, jalan setapak yang berliku, dan arsitektur bersejarahnya, memberikan inspirasi di bulan-bulan terakhirku, yang menghasilkan beberapa lukisanku yang paling intens secara emosional dan ekspresif"
"Kehadiran Dr. Paul Gachet, yang merawatku, membuatku merasa dipahami, serta keindahan pedesaan Auvers sangat menginspirasi. Keterkaitannya dengan alam dan lanskap bergelombang lembut terlihat jelas dalam lukisan terakhirku, terutama Wheatfield with Crows dan Church at Auvers".
Q: "Apa pesan anda (jika ada) untuk generasi para seniman muda indonesia"
A: "Untuk para pelukis muda Indonesia, aku ingin sampaikan bahwa seni adalah tentang ekspresi, keberanian, dan ketekunan. Jangan takut untuk bereksperimen dan menemukan gaya unik yang mencerminkan diri kalian. Seni bukan hanya tentang teknik, tetapi juga tentang jiwa yang kalian tuangkan ke dalam setiap karya".
"Indonesia memiliki warisan seni yang kaya—dari batik, seni lukis tradisional, hingga seni kontemporer. Manfaatkan kekayaan budaya ini untuk menciptakan sesuatu yang otentik dan berarti. Jangan ragu untuk terinspirasi dari seniman besar seperti Affandi, Raden Saleh, atau I Nyoman Masriadi, tetapi tetaplah setia pada identitas dan visi kalian sendiri".
"Teruslah berkarya, berbagi, dan tidak takut untuk menunjukkan dunia apa yang bisa kalian ciptakan. Seni memiliki kekuatan untuk mengubah perspektif, membangkitkan emosi, dan menyatukan orang-orang —gunakan kekuatan itu dengan bangga".
Selamat pagi Indonesia !
SP 13Mei2025

Comments
Post a Comment