PREMAN

Konotasi yang selama ini terbangun tentang preman adalah personel gagah, jago berantem fisik (bukan debate), suka mengintimadsi, dan lucrative (menguntungkan) penghasilannya. Siapa tidak tergiur menjadi preman. Terlebih lagi di jaman banyak PHK seperti sekarang, perusahaan pada tutup, asosiasi kehilangan taringnya, sehingga sulit cari kerja dst. Menarik sekali bagi anak-anak muda yang ingin cepat kaya.

Pertanyaan awalnya: apa syarat untuk menjadi preman. 

Pertama adalah ilmu kanuragan seperti karate, tinju, silat, atau jurus nekatpun tak apalah. 

Kedua penampilan yang intimidatif dan koersif. Termasuk ornamen yang menghiasi badannya seperti personel Yakuza yang legendaris di Jepang itu. Kalo pada masyarakat Nias, Dayak, dan Polinesia Selatan tattoo adalah simbol transcendental hormat mereka pada leluhurnya dan alam. Semakin banyak semakin tinggi ilmu batinnya.

Ketiga, citra bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas lebih besar yang cenderung gahar, dan para-militeristik. 

Jaman dulu sebelum ada TRI (kemudian menjadi ABRI kemudian TNI), banyak yang berangkat dari laskar. Bedanya walaupun sama-sama berpenampilan gahar, namun laskar jaman itu betul banyak juga yang bersemangat kebangsaan. Ingin ikut membangun masyarakat agar dapat hidup lebih baik dari hari ini dan kemarin. Secukupnya saja sudah alhamdulillah, asalkan tidak kekurangan.

Alasan ketiga tsb sekarang dipakai oleh sekelompok orang muda yang sayangnya pengin jalan pintas mencapai kecukupan materi dalam waktu cepat. Kenapa ya? salah-satu alasannya barangkali birokrasi pemerintahan dari tingkat desa sampai ke atas yang belibet bertele-tele, tidak mendasarkan pada merit melainkan pada KKN.

Pertanyaan yang perlu direnungkan kemudian, bagaimana nantinya Indonesia jika anak-anak mudanya pada lebih suka menjadi preman. Mremani saudara-saudaranya yang lebih lembut. Dan tidak ada upaya dari manapun termasuk dari regulator untuk mengaturnya. Atau malah memanfaatkannya untuk tujuannya sendiri: mengintimidasi masyarakat. Ibarat miara anjing penjaga untuk mengawasi ternak domba.

Kalau masyarakat Indonesia pada satu saat kelebihan supply preman apa jadinya ya. Premanisme menjadi sebuah "core competence" masyarakat kita ini.

Mari kita tengok sejarah Jepang jaman Shogun ke I yang berhasil mempersatukan Jepang, namanya Hideyoshi Toyotomi. Samurai ini sangat tangguh, pemberani, pemarah, ilmu kanuragannya sulit tertandingi. Dia memang mengawali karir samurainya dibawah Oda Nobunaga, tokoh yang pertama ingin mempersatukan Jepang, tapi kurang sedikit lagi untuk berhasil.

Fast forward, di akhir masa leadershipnya sebelum digantikan oleh Ieasu Togukawa, ia menghadapi dilema dimana sebagian besat masyarakat mudanya hanya pandai bertempur, membunuh. Tidak ada atau sedikit sekali yang masih punya passion dan ketrampilan menjadi petani, pedagang, karpenter, builder, administratur, menata kota dst. Hampir semua tenggelam ditelan oleh perang tiada habis. 

Judeg tenan. Pekerjaan apa yang dapat ia berikan bagi masyarakatnya untuk bisa hidup, makan, berkembang dst.

Cara paling logis adalah dengan menyerang negara lain. Ultimate dream-nya pengin menyerang China mainland yang punya resources segala macam. Namun tentu akan sangat sulit. Oleh karenanya diputuskan mengambil sasaran antara yaitu Korea. Sejak itu mulailah invasi ke negeri semenanjung ini besar-besaran.

Kembali ke Konoha: what is the government gonna do with the over supply of preman ... ask their leaders' heart if there is still a portion left


Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan