KARYA SASTRA KLASIK NUSANTARA

 

Episode pagi ini kita akan membahas apakah benar pameo yang mengatakan bahwa masyarakat kita ini adalah masyarakat verbal. Segala sesuatu cukup hanya diucapkan secara verbal. Mudah, praktis, spontan. Selesai. 

Benarkah kita belum terbiasa dengan budaya menulis, membaca? Mari kita lihat sama-sama.

Budaya menulis (literal) tentu lebih menuntut pemikiran dibanding bicara (verbal) saja. Menulis menuntut struktur logika yang baik agar dapat diikuti oleh pembacanya. Kadang setelah ditulis, si penulispun dapat berubah pikiran, karena menyadari ada hal yang perlu data lebih lanjut, atau pemikiran lebih jauh.

Yang lebih serius lagi adalah budaya menulis pada dunia ilmu pengetahuan dan riset. Keahlian, kebiasaan menulis adalah satu keterampilan dasar yang harus dikuasai agar dapat diuji, dipahami, diikuti oleh para pembacanya. Dan satu saat, as necessary, boleh saja dibantah untuk disempurnakan bila ditemukan bukti-bukti baru. Begitulah evolusi dunia ilmu pengetahuan maka menjadikannya maju seiring berjalannya waktu dan temuan-temuan baru. Dunia ilmu didasarkan pada rasio dan logika. Bagaikan pohon besar yang tumbuh dari tanah menjulang ke angkasa setinggi-tingginya tiada batas. 

Kontras dengan agama yang turun dari langit. Berdasarkan pada wahyu Ilahi melalui Malaikat Jibril. Umat yang belum sepenuhnya dapat memahami boleh saja namun diharapkan untuk percaya dulu. Itulah yang dimaksud beriman. Percaya pada sesuatu meskipun belum paham dasar pemikirannya. Sembari jalan mencari titik temu dengan rasio dan logika. 

Agama dan ilmu pengetahuan bagaikan Stalagtit dan Stalagmit dari gua / terowongan pengetahuan manusia. Dalam menyusuri gua ini manusia perlu lampu penerang yaitu pendapat para ahli ilmu, para bijaksana, para ahli agama agar dapat melihat cahaya di ujung terowongan.

Kembali pada judul awal yaitu Karya Sastra Klasik Nusantara: Kita memiliki warisan sastra klasik yang sangat kaya dan beragam, meskipun karya tertulis yang dapat dipastikan berasal dari abad ke-3 sangat langka karena tradisi lisan lebih dominan pada masa itu. Namun, sejak abad ke-7 dan seterusnya, muncul berbagai karya sastra monumental dari pujangga asli Nusantara. Berikut beberapa contoh yang sudah dikenal. Mungkin saja ada karya-karya lain yang belum ditemukan artefaknya sampai sekarang:

Karya Sastra Klasik Nusantara (Sejak Abad ke-7 dan Seterusnya)

  • Prasasti Talang Tuo: berasal dari era Sriwijaya di abad ke-7 yang berisikan ajaran moral dan harapan kesejahteraan rakyat. Ditulis dalam aksara Pallawa. 
  • Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa era Mataram Hindu abad ke-11. Berisi Puisi epik tentang Arjuna, yang penuh nilai kepahlawanan dan spiritualitas Hindu. 
  • Kakawin Sutasoma oleh Mpu Tantular era Majapahit abad ke-14, mengandung ajaran toleransi, termasuk semboyan “Bhinneka Tunggal Ika.” 
  • Negarakertagama oleh Mpu Prapanca era Majapahit abad ke-14 berisi tentang catatan sejarah dan pujian terhadap Raja Hayam Wuruk dan Majapahit. 
  • Serat Centhini karya Pujangga Keraton Surakarta abad ke-19 yang merupakan Ensiklopedia budaya Jawa berisikan filsafat, seksualitas, kuliner, dan spiritualitas. 
  • Hikayat Raja-Raja Pasai Melayu abad ke-14 yang berisikan kisah raja-raja Islam pertama di Nusantara, ditulis dalam bahasa Melayu klasik.

Catatan Penting

  • Sebagian besar karya sastra awal ditulis dalam bahasa Sanskerta, Jawa Kuno, Melayu Klasik, atau Arab Pegon.
  • Tradisi lisan seperti pantun, syair, dan cerita rakyat (folklore) juga berkembang sejak masa awal, namun sulit ditentukan tanggal pastinya.
  • Karya tertulis baru mulai berkembang pesat setelah pengaruh India dan Islam masuk ke Nusantara.


Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan