Belajar dari Satu Dekade Politik Indonesia (2014–2024)
Krisis Pemisahan Kekuasaan
Satu dekade perjalanan politik Indonesia dari Pilpres 2014 hingga Pilpres 2024 memperlihatkan betapa rapuhnya prinsip pemisahan kekuasaan. Tiga pilar utama—legislatif, eksekutif, dan yudikatif—yang seharusnya berdiri tegak dengan fungsi masing-masing, justru sering kali saling berebut peran.
- Legislatif tidak hanya membuat regulasi, tetapi juga ingin ikut mengatur jalannya eksekusi kebijakan.
- Yudikatif yang seharusnya menjadi penjaga keadilan, kerap tergoda untuk masuk ke ranah eksekutif demi menguasai akses pada sumber daya publik.
- Eksekutif sendiri sering kali nyaman membiarkan kaburnya batas peran, selama itu memperkuat otoritas dan memperluas ruang konsesi.
Akibatnya, regulasi, perizinan, perpajakan, hingga penegakan hukum menjadi instrumen yang dimainkan bukan untuk kepentingan rakyat, melainkan untuk kepentingan kelompok.
Pengusaha sebagai Aktor Bayangan
Di luar lingkaran kekuasaan formal, ada kelompok rakyat yang piawai membaca celah: pengusaha. Dari skala mikro hingga oligarki, mereka menjadikan kelemahan sistem sebagai ladang peluang.
- Loopholes dalam regulasi dimanfaatkan untuk mengubah peluang menjadi keuntungan.
- Penegakan hukum yang bisa “dimusyawarahkan” menjadikan aturan bukan sebagai pagar, melainkan sebagai pintu yang bisa dibuka-tutup sesuai kepentingan.
Inilah wajah ekonomi-politik Indonesia: ketika kelemahan tata kelola justru menjadi bahan bakar bagi mereka yang lihai bermain di ruang abu-abu.
Tantangan Global
Dalam dunia yang semakin terhubung secara real-time, kondisi ini tidak hanya menjadi masalah domestik. Investor asing dengan modal besar, teknologi mutakhir, dan jaringan rantai pasok global melihat Indonesia sebagai arena yang menarik.
- Persaingan menjadi semakin kompleks, bukan hanya antar pengusaha lokal, tetapi juga dengan pemain global.
- Kedaulatan ekonomi terancam jika pengelolaan kekayaan publik tidak segera diperkuat dengan sistem yang transparan dan akuntabel.
- Janji politik sering berhenti di panggung kampanye.
- Realitas sehari-hari rakyat masih dipenuhi kesenjangan, akses terbatas, dan rasa frustrasi terhadap elite yang lebih sibuk mengatur kepentingan sendiri.

Comments
Post a Comment