Kemandirian Energi vs Keberanian Politik
Kilang Balikpapan kini berdiri gagah,
360 ribu barel per hari kapasitasnya,
meningkat dari 260 ribu,
menjadi yang terbesar dan paling modern di negeri ini.
Syukur terucap: Indonesia mampu membangun,
setelah penantian panjang yang sering tertunda.
Namun angka-angka tetap bicara:
kebutuhan BBM nasional 2025 mencapai 232 ribu kiloliter per hari,
dan hampir separuhnya—49,53%—masih harus diimpor.
Produksi kilang nasional 1,182 juta barel per hari,
sementara kebutuhan 1,6 juta barel per hari.
Ada jarak yang belum terjembatani,
ada kapal asing yang masih singgah membawa crude.
LNG pun menyimpan paradoks:
cadangan besar di Papua, Sulawesi, Kalimantan,
namun pabrik-pabrik yang haus energi
berada di Jawa Timur dan Jawa Barat.
Distribusi mahal, kontrak ekspor panjang
dengan Cina, Jepang, dan Korea Selatan
membatasi pasokan domestik.
Kadang lebih murah mengimpor langsung,
meski hati kita ingin sepenuhnya mandiri.
Syukur tetap kita panjatkan,
karena langkah pertama telah nyata:
kilang berdiri, pipa gas mengalir,
standar Euro V tercapai,
dan bangsa ini membuktikan diri bisa.
Namun syukur bukan akhir,
ia adalah pangkal keberanian.
Keberanian politik untuk menata ulang kontrak,
keberanian membangun jaringan distribusi,
keberanian menjaga bumi agar tetap memberi.
Ketahanan energi bukan sekadar angka,
ia adalah martabat bangsa.
Ia adalah doa yang menyala di tungku rumah rakyat,
bahwa suatu hari nanti,
anak cucu kita akan hidup dari cahaya
yang lahir sepenuhnya dari rahim Nusantara.

Comments
Post a Comment