Membangun Sistem yang Ber-Integritas
Setiap tahun, Indonesia meluluskan sekitar 700–800 ribu sarjana (S1) dari berbagai perguruan tinggi. Data terbaru menunjukkan bahwa hingga September 2025 jumlah total lulusan perguruan tinggi mencapai 7,6 juta orang, dengan dominasi lulusan bidang Ilmu Sosial dan Manajemen (sekitar 1,087 juta orang atau 61,6% dari total lulusan tahun itu)
Di tengah derasnya arus lulusan perguruan tinggi dan profesional yang lahir setiap tahun, Indonesia masih menghadapi paradoks besar: kompetensi melimpah, tetapi integritas sering tersisih. Orang-orang baik, yang seharusnya menjadi tulang punggung kepemimpinan publik dan BUMN, kerap kalah oleh kepentingan politik, ekonomi, dan jaringan kekuasaan.
Mengapa Integritas Kalah
- Seleksi berbasis patronase: jabatan strategis lebih sering ditentukan oleh kedekatan politik daripada rekam jejak moral.
- Orang berintegritas sering terpinggirkan, bahkan disingkirkan, karena dianggap mengganggu status quo.
- Budaya kompromi: pelanggaran etik dianggap lumrah, sehingga orang yang teguh justru tampak “asing”.
- Seleksi berbasis meritokrasi dan integritas
- Audit integritas harus menjadi bagian dari proses rekrutmen, bukan sekadar formalitas.
- Rekam jejak moral (misalnya keterlibatan dalam kasus etik, transparansi aset, konsistensi sikap) harus dipublikasikan secara terbuka.
- Perlindungan bagi whistleblower dan profesional berintegritas
- Sistem hukum dan regulasi harus melindungi mereka yang berani menolak kompromi.
- BUMN dan lembaga publik perlu memiliki mekanisme internal yang menjamin keamanan karier bagi orang yang menegakkan etika.
- Budaya penghargaan terhadap integritas
- Media, masyarakat sipil, dan dunia usaha harus aktif menyoroti dan memberi penghargaan pada figur yang terbukti bersih.
- Narasi publik perlu bergeser: sukses bukan hanya soal kekuasaan dan kekayaan, tetapi juga soal kejujuran dan keberanian moral.
- Pendidikan karakter sejak dini
- Perguruan tinggi dan sekolah harus menanamkan etika kepemimpinan, bukan sekadar keterampilan teknis.
- Program mentoring dan teladan nyata dari pemimpin berintegritas akan membentuk generasi baru yang lebih tahan terhadap godaan.
- Untuk pemerintah: buka ruang seleksi yang transparan, adil, dan berbasis meritokrasi.
- Untuk BUMN dan dunia usaha: jadikan integritas sebagai KPI utama, bukan hanya profit.
- Untuk masyarakat sipil dan media: kawal, soroti, dan rayakan figur berintegritas agar mereka tidak berjalan sendirian.
- Untuk generasi muda: jangan hanya mengejar kompetensi, tetapi latih keberanian moral. Dunia butuh pemimpin yang bukan hanya pintar, tetapi juga jujur.

Comments
Post a Comment