Kuda Mati Part 3: “Pabrik Peti dan Industri Kupon”
Selamat datang kembali di Ignite Hope Indonesia!
Di dua episode sebelumnya, kita menyaksikan bagaimana seekor kuda mati bisa menghasilkan lima miliar rupiah… dan bagaimana publik ikut membiayainya tanpa sadar.
Hari ini, kita masuk lebih dalam.
Lebih gelap.
Lebih dekat ke jantung persoalan.
Di dua episode sebelumnya, kita menyaksikan bagaimana seekor kuda mati bisa menghasilkan lima miliar rupiah… dan bagaimana publik ikut membiayainya tanpa sadar.
Hari ini, kita masuk lebih dalam.
Lebih gelap.
Lebih dekat ke jantung persoalan.
Ketika Peti Bukan Lagi Sekadar Peti
Setelah sayembara kuda mati menjadi fenomena nasional, banyak orang mulai bertanya:
“Siapa sebenarnya yang membuat peti itu?”
“Siapa yang menyediakan es, pengawet, dan segelnya?”
“Siapa yang memberi izin sayembara?”
Pertanyaan-pertanyaan itu mengarah pada satu kenyataan pahit:
Peti itu bukan dibuat oleh satu orang.
Peti itu adalah produk industri.
Ada pabriknya.
Ada pemasoknya.
Ada yang mengatur distribusinya.
Ada yang memastikan peti itu tetap tertutup rapat.
Dan yang paling penting:
ada yang memastikan publik tidak pernah benar-benar melihat isinya.
Industri Kupon: Bisnis yang Tidak Pernah Rugi
Setelah kesuksesan sayembara pertama, kota mendadak dipenuhi berbagai “program partisipatif” baru:
• kupon pembangunan,
• kupon kesejahteraan,
• kupon harapan,
• kupon masa depan,
• kupon yang katanya untuk kita,
• tapi entah apa isi petinya.
Setiap kupon harganya kecil.
Selalu kecil.
Selalu “cuma segini”.
Dan publik membelinya.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Karena kerugiannya tidak terasa.
Karena narasinya manis.
Karena semua orang melakukannya.
Industri kupon pun tumbuh subur.
Bukan karena produknya jelas,
tapi karena pembelinya tidak pernah bertanya.
Para Pembuat Peti
Dalam metafora ini, para pembuat peti adalah mereka yang:
• merancang aturan,
• mengatur alur,
• menentukan siapa yang boleh melihat isi peti,
• dan siapa yang hanya boleh membeli kupon.
Mereka bekerja di balik layar.
Tidak pernah muncul di panggung.
Tidak pernah ikut sayembara.
Tidak pernah membeli kupon.
Karena mereka tidak perlu.
Mereka adalah pemilik pabrik.
Dan selama publik sibuk berdebat tentang kudanya,
tentang pemenangnya,
tentang siapa yang salah,
pabrik peti terus bekerja.
Diam-diam.
Efisien.
Menguntungkan.
Publik yang Terbiasa Membeli Kupon
Inilah bagian paling tragis dari metafora ini.
Publik tidak dipaksa membeli kupon.
Publik diajak.
Dengan slogan manis.
Dengan janji samar.
Dengan harapan murah.
Dan publik membeli.
Karena merasa ikut berpartisipasi.
Karena merasa menjadi bagian dari sesuatu.
Karena merasa “tidak rugi apa-apa”.
Padahal, kerugian kecil yang tidak terasa itu—
ketika dikumpulkan dari jutaan orang—
menjadi bahan bakar industri kupon.
Dan industri itu tidak pernah berhenti.
Karena pembelinya tidak pernah berhenti.
Pertanyaan yang Tidak Pernah Ditanyakan
Di akhir episode ini, kita sampai pada pertanyaan yang paling berbahaya:
“Jika petinya selalu tertutup…
jika isinya selalu misterius…
jika kuponnya selalu murah…
apakah kita benar-benar ikut serta…
atau kita hanya ikut-ikutan?”
Dan pertanyaan yang lebih tajam lagi:
“Apakah kita membeli kupon…
atau kita sedang membiayai pabrik peti?”
Selama kita tidak bertanya,
selama kita merasa “cuma lima ribu”,
selama kita percaya bahwa peti itu pasti berisi sesuatu yang baik,
selama itu pula industri ini akan terus berjalan.
Dan kita akan tetap menjadi 999.999 pembeli kupon yang diam.
Sampai jumpa di episode berikutnya—
jika Anda masih berani membuka peti berikutnya.

Comments
Post a Comment