James A. Garfield - Membangun Pemerintahan Bersih dari Korupsi
Pendahuluan
James Abram Garfield, Presiden ke-20 Amerika Serikat, bercita-cita membangun pemerintahan bersih dari korupsi. Ia adalah sosok yang unik dalam sejarah politik Amerika. Lahir dari keluarga miskin di Ohio, ia meniti karier dari seorang guru, pengacara, hingga menjadi senator dan akhirnya presiden. Meski masa kepresidenannya hanya berlangsung enam bulan, Garfield meninggalkan jejak penting: cita-cita membangun pemerintahan yang bersih dari korupsi. Artikel ini membahas perjalanan Garfield dari masa awal sebagai senator, perjuangannya melawan patronase politik, hingga tragedi penembakannya di stasiun Washington, serta warisan reformasi yang lahir dari idealismenya.
Latar Belakang Kehidupan dan Karier Politik Awal
- Garfield lahir pada 19 November 1831 di Moreland Hills, Ohio. Ayahnya meninggal saat ia berusia dua tahun, sehingga ia tumbuh dalam kemiskinan.
- Pendidikan menjadi jalan keluar: ia menempuh studi di Williams College dan kemudian menjadi presiden Western Reserve Eclectic Institute.
- Karier politiknya dimulai sebagai senator negara bagian Ohio (1859), lalu anggota Kongres (1863–1880).
- Di Kongres, Garfield dikenal sebagai orator ulung, pemikir reformis, dan tokoh yang menentang sistem patronase politik.
- Sistem politik Amerika kala itu dikuasai oleh praktik “spoils system”, di mana jabatan publik dibagi sebagai hadiah politik.
- Garfield menentang keras praktik ini, menekankan pentingnya merit system dalam birokrasi.
- Ia mendukung kebijakan fiskal disiplin, standar emas, dan memperjuangkan hak-hak sipil.
- Dengan reputasi sebagai politisi bersih, Garfield menjadi simbol perlawanan terhadap korupsi politik.
Kepresidenan Singkat dan Agenda Reformasi
- Garfield terpilih sebagai presiden pada 1880, meski awalnya bukan kandidat utama. Ia menjadi kandidat kompromi Partai Republik.
- Agenda utamanya adalah membersihkan birokrasi dari patronase politik.
- Konflik besar terjadi dengan faksi “Stalwart” yang dipimpin Senator Roscoe Conkling, yang ingin mempertahankan sistem patronase.
- Garfield menolak tunduk, bahkan mengangkat William H. Robertson sebagai kepala Bea Cukai New York, menantang dominasi Conkling.
- Ia menegaskan bahwa presiden bukan sekadar “juru tulis Senat,” melainkan eksekutif yang berhak menentukan arah pemerintahan.
- Pada 2 Juli 1881, Garfield ditembak oleh Charles J. Guiteau, seorang pencari jabatan yang kecewa karena tidak mendapat posisi politik.
- Garfield bertahan selama 79 hari, namun meninggal pada 19 September 1881 akibat infeksi dari luka tembak dan perawatan medis yang buruk.
- Tragedi ini mengguncang bangsa dan memperkuat dukungan publik terhadap reformasi birokrasi.
- Meski masa kepresidenannya singkat, Garfield meletakkan dasar bagi lahirnya Pendleton Civil Service Reform Act (1883).
- Undang-undang ini mengakhiri sistem patronase dan memperkenalkan merit system dalam perekrutan pegawai negeri.
- Garfield dikenang sebagai martir reformasi politik, yang pengorbanannya mempercepat lahirnya pemerintahan modern yang lebih bersih.

Comments
Post a Comment