Kebenaran di Luar Logika


Ada kebenaran di luar logika.  

Logika adalah lentera—ia menerangi, tapi hanya sejauh dinding yang bisa dijangkau. Di luar dinding itu terbentang cakrawala yang tak bisa disebrangi oleh nalar semata. Hidup tak dapat didamaikan hanya dengan logika, karena ada kebenaran yang berbisik dalam diam, kebenaran yang menolak dijelaskan oleh rumus dan alasan.

Di sanalah kita menyadari betapa kecilnya diri kita di semesta ini. Perhitungan, teori, kepastian—semuanya hanyalah butiran pasir di tepi samudra misteri. Maka muncul pertanyaan: apa yang akan kau lakukan sekarang, dan ke depan? Apakah kau akan terus menggenggam lentera logika, atau berani melangkah ke bayang-bayang tempat iman bermula?

Itulah hakikat iman. Iman bukan penolakan terhadap logika, melainkan penyempurnaannya. Ia adalah keberanian untuk melangkah melampaui yang terukur, mempercayai yang tak dapat dibuktikan namun terasa begitu nyata di hati. Karena itulah kita diciptakan dengan hati dan pikiran—agar tidak tersesat di antara keduanya. Pikiran memberi kejelasan, hati memberi arah. Bersama, keduanya menjadi kompas menuju makna.

Mereka yang mampu menguasai keduanya akan diberkati selamanya.  

Sebab kebijaksanaan sejati bukanlah memilih satu dan menolak yang lain, melainkan menenun keduanya menjadi satu—logika dan cinta, nalar dan rasa hormat, perhitungan dan kasih. Dalam persatuan itulah, jiwa manusia menemukan jalan pulang.

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan