Ketika Kapal Viking Berlabuh di Nusantara

 


Bayangkan Indonesia sebagai sebuah kapal besar. Bukan kapal pinisi, bukan kapal perang modern, melainkan kapal Viking dengan kepala naga di haluannya. Kapal ini berlayar di lautan global, penuh badai korupsi, ombak ketidakadilan, dan kabut birokrasi.

Para Viking dulu berkata: akal sehat adalah harta terbaik. Tapi di kapal kita, akal sehat sering ditukar dengan kupon politik, dijual murah di pasar janji, atau disimpan rapi di laci pejabat.

Viking menyalakan api untuk menyambut tamu. Kita? Kadang malah memadamkan api solidaritas demi kepentingan pribadi. Mereka berani menyeberangi lautan, sementara kita masih ragu menyeberangi arus ketidakadilan.

Di kapal Viking, keberanian adalah mata uang. Di kapal kita, keberanian sering ditukar dengan diam, dengan ‘asal aman’, dengan ‘yang penting dapat bagian’.

Namun jangan salah. Kapal ini belum karam. Masih ada awak yang berpegang pada tali gotong royong, masih ada penumpang yang percaya bahwa kesederhanaan adalah jalan selamat. Mereka tahu, seperti pepatah Viking, bahwa mabuk berlebihan hanya membuat kapal oleng.

Maka pertanyaannya: apakah kita siap menjadi Viking Nusantara? Bukan dengan pedang dan perisai, melainkan dengan keberanian moral, akal sehat, dan solidaritas. Karena jika tidak, kapal ini akan terus berputar-putar di lautan janji, tanpa pernah berlabuh di pelabuhan keadilan.

Kapal Viking pernah menaklukkan dunia. Kapal Nusantara bisa menaklukkan dirinya sendiri—jika berani.

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan