Bersyukur di Usia Senja

 


Soegeng Priyono

Selamat datang di ruang renungan kita hari ini. Hidup terasa begitu cepat berlalu. Baru kemarin rasanya hari Minggu, sekarang sudah Minggu lagi. Waktu berlari, dan kita hanya bisa mengikutinya dengan langkah yang semakin pelan.

Refleksi Waktu  

Tidak ada kebahagiaan yang abadi, tidak ada kesedihan yang selamanya. Semuanya berlalu. Satu per satu teman, sahabat, orang yang kita kenal baik, mengambil jalannya masing-masing. Anak-anak pun sudah punya kehidupan sendiri bersama pasangan dan anak-anak mereka.

Bagi kita, cukup satu atau dua kali video call seminggu dengan cucu-cucu tercinta. Itu saja sudah sangat membahagiakan. Senyum mereka, celoteh polos mereka, adalah hadiah yang tak ternilai.

Tentang Harta dan Usia  

Harta yang dulu kita kumpulkan dengan susah payah, kini terasa berbeda maknanya. Apa artinya berlimpah bila badan sudah tidak sekuat dulu? Bahkan ada yang menghadapi tantangan baru: bagaimana membagi aset agar anak-anak tidak berkelahi, agar tidak menjadi beban bagi mereka.

Karena sesungguhnya, mereka sudah punya tantangan sendiri: impian, tanggung jawab, dan perjuangan untuk hidup sehat, sejahtera, bahagia bersama keluarga mereka.

Syukur di Senja Usia  

Kita sebagai lansia, cukup mensyukuri rejeki yang ada. Semoga mencukupi untuk kehidupan hari tua, tanpa membebani anak-anak. Masih bisa makan es krim, tertawa bersama, bermain dengan cucu-cucu dari Generasi Alpha. Itu sudah lebih dari cukup.

Closing  

Bersyukurlah, bersyukurlah. Semoga kita tetap sehat, tetap berkecukupan, dan tetap bisa menikmati indahnya hidup bersama orang-orang yang kita cintai.

Amiinn.

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan