Haute Couture dari Konoha
Di sebuah negeri bernama Konoha, perayaan ulang tahun penguasa tertinggi—Akuwu—tidak pernah sederhana. Tahun ini, ia memutuskan untuk menggelar sebuah sayembara yang terdengar glamor sekaligus absurd: perlombaan Haute Couture.
Haute Couture, simbol selera tinggi ala Paris, kini dipanggil masuk ke jantung negeri Konoha. Pamflet disebar, buzzer dikerahkan, content creator di-hire. Semua demi satu tujuan: memuliakan sang Akuwu, tentu saja dengan dana publik. Karena, mari kita jujur, mana ada penguasa yang rela keluar uang pribadi untuk glorifikasi dirinya sendiri.
Drama di Balik Lomba
Ratusan desainer busana dari seluruh negeri mendaftar. Hadiahnya menggiurkan: 100 miliar rupiah plus 1 kilogram logam mulia.
Lima juri senior, wajah-wajah yang sudah berkarat di dunia mode, ditunjuk untuk menyaring karya. Dalam seminggu, mereka harus menyingkat ratusan desain menjadi sepuluh terbaik.
Hari H pun tiba.
Sepuluh rancangan dipamerkan di istana, diiringi musik kelas tinggi, French wine, dan caviar. Dari batik tulis hingga gaya encim, dari ATBM hingga kontemporer, semuanya berbaris di catwalk.
Puncak Pertunjukan
Lampu sorot dipadamkan. Jantung audiens berdegup.
Tiga desain terbaik diumumkan.
Dan akhirnya, Sang Akuwu sendiri yang harus memilih pemenang.
Ketika lampu kembali menyala, semua mata terbelalak.
Pemenang yang dipilih bukanlah nama besar, bukan desainer legendaris. Melainkan seorang seniman baru dengan karya berjudul “Nglegeno.”
Nglegeno: Busana Virtual
Apa itu Nglegeno?
Sebuah rancangan tembus pandang. Virtual.
Hanya bisa dilihat oleh mereka yang berjabatan tinggi, para ahli konten, dan pencipta hoaks.
Bagi rakyat biasa?
Busana itu tak terlihat.
Yang mereka lihat hanyalah Sang Akuwu berdiri telanjang bulat di atas panggung.
Namun tepuk tangan membahana.
Plok-plok-plok.
Semua memuji kecerdasan Sang Akuwu.
Hadiah 100 miliar dan 1 kilogram logam mulia langsung diserahkan.
Penutup
Dan begitulah, negeri Konoha kembali membuktikan bahwa kemewahan bisa diciptakan dari ilusi.
Bahwa busana paling mahal bukanlah kain, bukanlah batik, bukanlah sutra.
Melainkan narasi.
Narasi yang membuat orang percaya bahwa mereka melihat sesuatu, padahal yang ada hanyalah kosong.
Tepuk tangan membahana.
Plok-plok-plok

Comments
Post a Comment