Indonesia, Negeri yang Membutuhkan Keajaiban
Soegeng Priyono
Indonesia adalah negeri yang begitu kompleks, bahkan bagi rakyatnya sendiri untuk dipahami. Sebuah tanah yang diberkahi dengan kekayaan sumber daya alam—tambang, energi, hutan, laut—namun ironisnya, banyak rakyat masih hidup dalam kemiskinan. Setiap hari, suami dan istri harus berjuang mencari nafkah, dan perjuangan itu sering kali berakhir dengan hasil yang belum tentu mencukupi kebutuhan dasar.
Kekayaan alam yang seharusnya menjadi berkah bagi seluruh rakyat, justru lebih banyak dinikmati oleh segelintir oligarki. Mereka memperoleh berbagai kemudahan dari pemerintah, namun patut dipertanyakan apakah mereka sungguh taat membayar pajak sebagaimana para pegawai biasa yang dengan tekun menyetor kewajiban bulanannya. Dugaan kuat muncul bahwa pajak yang mereka bayarkan jauh di bawah nominal seharusnya. Sementara itu, kerusakan lingkungan akibat pembalakan hutan untuk perkebunan kelapa sawit atau penambangan batubara besar-besaran sering kali luput dari tuntutan tanggung jawab.
Di sisi lain, survei gaji menunjukkan bahwa golongan profesional dengan kompensasi tertinggi berada di sektor pertambangan dan energi. Profesi lain, betapapun kompetennya, tidak memperoleh imbalan sebesar itu. Ketika nilai tukar melemah, harga kebutuhan pokok melambung, dan lapangan kerja semakin sulit, daya beli golongan profesional pun ikut merosot.
Kasus-kasus korupsi besar yang mencuat ke permukaan sering berakhir tanpa kejelasan. Harta rampasan negara entah bagaimana kalkulasinya, entah siapa yang menjadi custodian. Neraca fiskal negara dikabarkan semakin defisit, sehingga pemerintah menempuh jalan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak. Ironisnya, ada golongan profesi yang pajaknya justru ditanggung negara, alias dibebankan pada uang publik. Beban semakin berat menimpa kelas menengah yang hanya mengandalkan gaji sebagai sumber pendapatan utama.
Sementara itu, rakyat setiap hari disuguhi drama politik yang tiada habis. Para pemain politik tetap menerima gaji dari uang pajak, sibuk membangun pencitraan, sementara rakyat menunggu solusi nyata atas persoalan hidup mereka.
Pertanyaan besar pun muncul: mau ke mana Indonesia ini? Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa negeri ini membutuhkan sebuah keajaiban untuk bisa bangkit menuju arah yang lebih baik. Sebuah keajaiban yang bukan datang dari langit, melainkan lahir dari kesadaran kolektif, keberanian moral, dan tekad bersama untuk menegakkan keadilan serta mengembalikan kekayaan negeri kepada rakyatnya.

Comments
Post a Comment