Jejak Magelang, Jejak Bangsa

 


Soegeng Priyono

Awal tahun 60-an, aku lahir di sebuah kota kecamatan di lereng tenggara Gunung Sumbing. Kota kecil yang pernah menjadi tempat Pangeran Diponegoro menggelar pengajian dan pembahasan rutin. Dari sana, hanya beberapa kilometer ke arah bawah, berdiri kantor Karesidenan Kedu di Magelang, dekat aliran Kali Progo…

Magelang, Kota Masa Kecil 

Magelang, kota masa kecilku. Tenang, berhawa sejuk, udaranya bersih. Penduduknya sederhana: pegawai negeri, petani, pedagang, dan tentara. Teman-teman masa kecilku banyak yang kelak masuk Akademi Militer di Panca Arga, kaki Gunung Tidar sebelah selatan. 

Magelang adalah kota garnisun. Tangsi Baret Merah di Tuguran, infanteri dan Baret Hitam di timur kota, lapangan RINDIP dengan gazebo di bawah pohon beringin tempat drumband berlatih. Aku, bocah SD, terbiasa mengumpulkan selongsong peluru kosong sisa latihan menembak. 

Masih jelas di ingatan, tentara Baret Merah telanjang dada, gagah, berlatih melempar pisau komando ke pohon. Tak heran bila banyak teman-temanku akhirnya memilih jalan hidup sebagai prajurit.

Sejarah dan Kebanggaan

Tahun 1973–1975, masa SMP. Kami belajar Sejarah Indonesia dan Sejarah Dunia. Kisah perjuangan para pendiri bangsa begitu hidup. Tidak jauh dari depan sekolah terdapat rumah almarhum Laksamana Yos Sudarso. Di Taman Badakan, patung Jenderal Gatot Subroto menatap tegas. 

ABRI, kini TNI, adalah tentara nasional kita. Prajurit yang berani dan tangguh. Mereka menumpas pemberontakan PKI di Solo, Madiun, menghadapi RMS, DI/TII, PRRI/Permesta, hingga Operasi Pembebasan Irian Barat. dst. Lagu perjuangan seperti Gugur Bunga dan Pantang Mundur masih membuat hati bergetar, penuh haru.

Refleksi di Usia Republik  

Namun kini, di usia republik yang sudah melewati 80 tahun, rasa bangga itu mulai terkikis. Tidak lagi ada perjuangan fisik seperti dulu. Yang ada justru kasus korupsi raksasa, penegakan hukum yang lamban, dan tentara yang dulu menjadi kebanggaan bangsa kini banyak menempati posisi di luar kompetensinya. 

Sayang sekali. Jangan sampai generasi Z, Alpha, Beta, dan adik-adiknya kehilangan apresiasi terhadap tentara nasional kita. Tentara yang lahir dan besar untuk seluruh rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir orang.

Closing 

Magelang, dengan segala kenangan masa kecil dan jejak sejarahnya, adalah cermin perjalanan bangsa. Dari kota garnisun yang penuh semangat perjuangan, hingga refleksi kritis terhadap kondisi hari ini. Semoga cerita ini menjadi pengingat: bahwa kebanggaan sejati pada tentara nasional bukan sekadar nostalgia, melainkan amanah untuk terus menjaga keberanian, keteguhan, dan integritas demi rakyat Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan