Kuldesak
Yudi Latif
Kita hidup di sebuah negeri
yang peta jalannya mulai kusut.
Sepanjang lintasan, papan penunjuk arah patah,
lampu-lampu berkedip seperti ragu,
dan orang-orang berjalan
sambil bertanya dalam hati:
masihkah ada tempat
yang bisa disebut masa depan?
yang peta jalannya mulai kusut.
Sepanjang lintasan, papan penunjuk arah patah,
lampu-lampu berkedip seperti ragu,
dan orang-orang berjalan
sambil bertanya dalam hati:
masihkah ada tempat
yang bisa disebut masa depan?
Dalam menempuh rute tak menentu itu,
harga dan pungutan melambung,
jurang ekonomi kian menganga,
hukum kehilangan neraca,
keadilan tinggal bayang-bayang.
Tak heran bila langkah-langkah
mulai goyah.
Kita berjalan dalam ragu,
sementara masa depan
kian kabur dari pandangan.
Yang paling mencekam
bukan ketika jalan buntu,
melainkan ketika kita tak lagi tahu
ke mana harus membawa langkah.
Di titik seperti itu,
kita menatap tanah di depan kaki
dan mulai mengerti:
mungkin jalan memang tak selalu ada
untuk ditemukan.
Kadang ia menunggu
untuk dibuat.
Seperti benih
yang tak pernah diberi peta
ke mana akar harus tumbuh.
Ia masuk ke gelap,
menembus tanah,
dan justru dari sana
menemukan arah menuju cahaya.
Barangkali kita pun demikian.
Tak selalu harus tahu
di mana ujung perjalanan.
Kadang cukup tahu
apa yang masih bisa dibangun:
memulihkan yang retak,
menegakkan yang miring,
menanam sesuatu
yang kelak menaungi
mereka yang belum lahir.
Mungkin itu tampak kecil
di hadapan luasnya negeri.
Namun jalan pun mula-mula
hanya sebuah garis
di atas tanah.
di hadapan luasnya negeri.
Namun jalan pun mula-mula
hanya sebuah garis
di atas tanah.
Begitu pula harapan.
Ia tak selalu datang
sebagai cahaya yang membelah langit.
Kadang ia hanya bara kecil
yang dijaga seseorang
agar tidak padam.
Ia tak selalu datang
sebagai cahaya yang membelah langit.
Kadang ia hanya bara kecil
yang dijaga seseorang
agar tidak padam.
Seperti orang yang tetap menanam
meski tahu pohonnya
mungkin baru rindang
setelah ia tiada.
Sebab masa depan sebuah negeri
barangkali tidak ditentukan
oleh seberapa panjang jalannya,
melainkan oleh masih adakah
orang-orang yang bersedia
membuka jalan saat kuldesak.
barangkali tidak ditentukan
oleh seberapa panjang jalannya,
melainkan oleh masih adakah
orang-orang yang bersedia
membuka jalan saat kuldesak.
Dan jika suatu hari
kita benar-benar sampai
di ujung jalan,
mungkin itu bukan akhir.
kita benar-benar sampai
di ujung jalan,
mungkin itu bukan akhir.
Bisajadi di bawah telapak kaki
yang tetap memilih melangkah
sedang muncul jalan yang belum bernama.
yang tetap memilih melangkah
sedang muncul jalan yang belum bernama.
Kelak, ketika anak-anak kita bertanya
mengapa kita dulu
tidak menyerah,
kita tak perlu menunjuk
pada negeri yang sempurna.
mengapa kita dulu
tidak menyerah,
kita tak perlu menunjuk
pada negeri yang sempurna.
Cukup tunjukkan jejak:
bahwa ketika hampir semua pintu
tertutup oleh tabir penghalang,
kita masih menyisakan
satu jendela
bagi cahaya.

Comments
Post a Comment