Londo Ireng Masih

 

oleh: Jaya Suprana

 “Londo Ireng: Penjajah Baru dalam Jas dan Dasi”

Halo sahabat setia pendengar pembaca Ignite Hope Indonesia.  

Kita sering bangga menyebut diri merdeka. Delapan puluh tahun sudah sejak teriakan “Merdeka!” menggema melawan Londo berkulit putih, berhidung mancung, membawa tongkat dan buku filsafat. Dulu kita dipaksa tanam kopi, kerja rodi, bayar pajak. Kita lawan dengan darah dan nyawa.

Tapi hari ini, ada penjajah baru. Bukan datang dengan kapal dan meriam, melainkan dengan mobil dinas, dasi, dan PowerPoint. Mereka bukan Londo putih, melainkan Londo Ireng—kulitnya Indonesia, kelakuannya penjajah.

Ciri-cirinya jelas:  

Mereka mengaku “abdi rakyat,” tapi rapatnya di hotel bintang lima. Mereka bilang “mendidik rakyat,” padahal regulasi dibuat berbelit agar kita menyerah dan akhirnya membayar “jasa percepatan.” Tanam paksa pun berganti rupa: bukan lagi kopi dan tebu, melainkan proyek wajib dukung, wajib ikut, wajib beli. Hasilnya? Bukan ke Amsterdam, tapi mampir dulu ke rekening pribadi, lalu dicuci di luar negeri.

Kenapa lebih berbahaya? Karena Londo asli mudah dikenali: bahasanya beda, wajahnya beda. Londo Ireng justru makan sambal, selfie di pasar, bicara bahasa kita. Tapi begitu masuk ruangan, otaknya langsung switch: “Bagaimana caranya tetap berkuasa?”

Ironisnya, mereka berkuasa bukan dengan senjata, melainkan dengan mandat kita sendiri. Setiap lima tahun, kita yang memilih mereka. Dan ketika dikritik, mereka cepat berlindung di balik jargon: “fitnah, buzzer, tidak Pancasilais.” Padahal kelakuannya jelas: menjual sumber daya, mengimpor kebijakan, dan meminta rakyat sabar.

Lalu apa obatnya?  

Bukan sekadar mengganti Londo Ireng dengan Londo Ireng yang baru. Itu sama saja ganti aki soak dengan aki soak. Obatnya adalah kita berhenti jadi “pribumi” yang nurut, dan mulai jadi warga yang berani bertanya:

•  “Pak, proyek ini buat siapa?”

•  “Bu, APBD-nya larinya kemana?”

•  “Mas, janjinya masih inget nggak?”

Selama kita masih tepuk tangan ketika diberi bansos dua ratus ribu, selama itu pula Londo Ireng akan terus hidup—sehat, gemuk, dan rajin upload kegiatan “turun ke rakyat.”

Merdeka itu bukan sekadar mengusir penjajah berkulit putih.  

Merdeka itu ketika kita berani berkata:  

“Hei Londo Ireng, cukup.”

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan