ORMAS

 


Soegeng Priyono

Aspirasi atau Kepentingan?

Hari ini kita membahas fenomena Organisasi Massa – ORMAS. Sebuah wadah yang secara logis dibentuk untuk menyalurkan aspirasi rakyat yang belum terakomodasi oleh partai politik, DPR, atau pemegang kekuasaan.

Idealisme Ormas  

Secara historis, ormas lahir dari semangat mandiri. Didirikan oleh para pelopor dengan biaya sendiri atau gotong royong anggota dan simpatisan. Inilah wajah ormas yang murni: suara rakyat yang ingin didengar tanpa embel-embel kepentingan tersembunyi.

Namun, beberapa hari lalu pemerintah meresmikan 20 ormas baru. Jika ditambah dengan yang sudah ada sebelumnya, jumlahnya tentu sangat banyak. Pertanyaannya: apakah semua ormas ini benar-benar lahir dari idealisme, atau ada motif lain di baliknya?

Realita Politik Ormas 

Fakta di lapangan menunjukkan, banyak ormas justru didirikan untuk kepentingan politik pendirinya. Ada yang berfungsi sebagai penjaga keamanan, ada yang menunjukkan kekuatan dukungan massa, bahkan ada yang digunakan untuk menekan pihak yang berseberangan.

Bayangkan betapa sulitnya menyeragamkan suara puluhan ormas agar tidak saling berbenturan. Apalagi setiap ormas membutuhkan kantor, gaji pengurus, dan biaya operasional. Pertanyaannya sederhana: dari mana semua dana itu berasal?

Pada masa perjuangan kemerdekaan, mungkin ada dermawan yang rela menyumbang demi cita-cita bangsa. Tapi di zaman sekarang, apakah masih ada yang mau membuang uang sendiri ke laut? Atau justru ada sponsor besar di belakang layar yang ingin suaranya bergema lebih kuat?

Demokrasi atau Kegagalan Representasi? 

Semakin banyak jumlah ormas, sekilas tampak sebagai tanda kebebasan rakyat untuk bersuara. Namun bisa juga dibaca sebaliknya: partai politik dan DPR gagal menangkap aspirasi rakyat secara luas. Akibatnya, rakyat mencari jalannya sendiri melalui ormas.

Dan di titik ini, publik berhak bertanya: jika dana ormas berasal dari uang publik, maka harus ada transparansi dan pertanggungjawaban. Karena tidak ada yang gratis. Nothing is free.

*

Pada akhirnya, ormas bisa menjadi cermin demokrasi atau justru alat kepentingan. Semua kembali pada akal sehat dan hati nurani kita. Rakyat berhak tahu, rakyat berhak menuntut, dan rakyat berhak memastikan bahwa suara yang digemakan bukan sekadar gema sponsor, melainkan gema aspirasi sejati.

Terima kasih sudah mendengar dan membaca Ignite Hope Indonesia. Mari kita terus kritis, karena demokrasi hanya hidup bila rakyat berani bertanya, berani menuntut, dan berani menjaga transparansi.

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan