Berdamai dengan Sakit

 

Yudi Latif

Hidup akan menjadi melelahkan jika setiap suapan harus diadili, setiap tegukan dihitung risikonya, dan setiap kenikmatan dicurigai dampaknya bagi tubuh.

Kita bisa begitu sibuk menjaga kesehatan hingga lupa bahwa hidup juga membutuhkan spontanitas: menikmati makanan dan minuman lezat tanpa dihantui kecemasan. Sebab manusia bukan hanya tubuh; ia juga ingin merasakan, mengenang, dan memberi arti. 

Menjaga kesehatan adalah bentuk penghormatan kepada kehidupan. Kita merawat tubuh karena ia adalah rumah tempat kesadaran kita berdiam untuk sementara. 

Namun penyakit tetap dapat datang tanpa bertanya apakah pemilik rumah telah hidup dengan baik—karena genetik, lingkungan, atau sebab yang tak selalu dapat dijelaskan.

Di situlah kita berhadapan dengan batas pengetahuan. Kita hidup di antara ikhtiar dan misteri: melakukan yang terbaik, lalu menerima bahwa hasil akhirnya bukan sepenuhnya milik kita.

Karena itu, jagalah kesehatan tanpa menjadi cemas, berhati-hatilah tanpa hidup dalam ketakutan, dan nikmatilah kehidupan tanpa menjadi ceroboh. Kehidupan bukanlah mesin sebab-akibat yang menjanjikan bahwa orang yang hidup baik akan terbebas dari penderitaan.

Ketika penyakit atau kejutan yang tak diharapkan datang, mungkin kita tak perlu selalu bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” Barangkali lebih bermakna bertanya: “Apa yang masih dapat kulakukan dengan keadaan ini?”

Kita tak selalu dapat memilih apa yang terjadi, tetapi masih memiliki ruang untuk memilih bagaimana menyikapinya. Tubuh bisa melemah, langkah melambat, dunia menyempit—tetapi kasih sayang dapat menguat, kebijaksanaan bertambah, dan batin justru menjadi lebih luas.

Hidup terlalu berharga untuk hanya dijalani sebagai usaha menghindari kematian. Hidup adalah keberanian untuk hadir sepenuhnya di antara kelahiran dan kematian, dengan segala ketidakpastian, kehilangan, keajaiban, penyakit, cinta, tawa, dan air mata yang menyertainya.

Maka berikhtiarlah dan berharaplah panjang umur, tetapi jangan menunda kebahagiaan. Menjadi bahagia bukan berarti senantiasa berhasil mengendalikan kehidupan, melainkan juga berdamai dengan ketidakpastian—lalu tetap memilih untuk mencintainya.

Comments

Popular posts from this blog

SUNYI DI TENGAH REPUBLIK

Jejak Imlek di Benteng Heritage

BUMN, Pekerjaan, dan ROI Kekuasaan